Tampilkan postingan dengan label Q-journal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Q-journal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Mei 2023

Frasa belajar seringkali terbatasi maknanya oleh bayangan dinding, meja, dan kursi kelas. Padahal, maknanya sangat luas. Proses belajar bisa terjadi tanpa mengenal waktu, tempat, dan usia. Bahkan bisa terjadi tanpa kita sadari. Waktu yang dihabiskan untuk bermain saat kecil, waktu yang dinikmati bersama kerabat di rumah, tentu memberikan bekas tidak hanya dalam bentuk ingatan, tetapi juga pelajaran. Mungkin, hal itu tidak kita sadari pada saat itu juga dan baru terpikirkan ketika waktu tersebut sudah berlalu.

Tidak hanya sewaktu bermain dan sewaktu bersenda gurau bersama kerabat, setiap usia yang dilalui dan tempat yang disinggahi merupakai bagian dari proses belajar. Kisah dan pembelajaran yang ditinggalkan pasti berbeda. Tinggal untuk melanjutkan pendidikan di Bogor adalah salah satu kesempatan yang sangat saya syukuri. Salah satu setting kisah tentang belajar yang sangat berkesan selama di Bogor adalah Primagama Darmaga.

Berawal dari tawaran teman kosan kala itu, saya coba menghubungi salah satu penanggung jawab Primagama. Responnya cukup mengagetkan, saya langsung ditawari untuk mengajar. Tentu saja saya heran dan saya nyatakan keheranan saya dengan menanyakan apakah tidak masalah saya langsung mengajar tanpa melewati tahap apa pun. Yaa, dipikiran saya akan ada tahapan seperti proses melamar kerja pada umumnya. Respon selanjutnya pun lebih mengagetkan sekaligus membuat saya takjub. Beliau menjelaskan dengan panjang kali lebar, pada intinya apapun yang sekarang lembaga itu lakukan adalah bagian dari ikhtiar untuk mengharapkan ridho Allah (kalau saya tidak salah ingat, kurang lebih begitu isi chatnya). Maa syaa Allah, Allah selalu mempertemukan saya dengan orang-orang dan lingkungan yang hebat.

Foto bersama pengurus, admin, dan beberapa tutor Primagama Darmaga

Beberapa hari setelah itu saya mulai belajar di Primagama, bertemu teman-teman baru. Saya lebih suka menyatakan apa yang saya lakukan di sana dengan kata belajar dan hubungan yang saya jalin saat di dalam kelas adalah hubungan antar teman. Alasan untuk hal yang pertama, sampai saat ini banyak sekali pembelajaran yang saya dapat. Alasan untuk hal yang kedua, hubungan antar teman saya rasa lebih efektif dibandingkan mempertahankan hubungan pengajar-pelajar dengan kesenjangan di antaranya.

Kelas yang berbeda sama dengan dunia yang berbeda. Ada kelas dengan suasana relatif aman damai sentosa, tanpa ada pertanyaan, ketika ditanya pun butuh waktu untuk menunggu jawaban. Ada kelas yang ketika baru melangkah masuk pun sudah terasa suasana keceriaannya. Memperhatikan teman-teman kecil di kelas yang berbeda dengan karakteristik yang juga berbeda adalah hal yang cukup mengesankan.

Dulu ketika saya seusia mereka, saya tidak mengikuti bimbingan belajar. Patut diacungi jempol saat melihat mereka yang jam belajar di sekolahnya lebih panjang ditambah lagi dengan jam belajar di Primagama setelahnya. Dalam kondisi yang seharusnya sudah cukup penat, mereka masih tetap semangat dan bisa fokus. Walaupun memang tidak bisa dipungkiri, terkadang dengan khusyuknya ada yang menundukkan kepala dan ada yang menceritakan kepenatannya secara terang-terangan. Jadwal mereka benar-benar padat dalam satu hari. Sepulang sekolah mereka dijemput, kemudian ada yang sempat pulang ke rumah sejenak ada juga yang lanjut diantarkan ke Primagama. Terkadang pun, setelah selesai kelas yang satu, masih harus lanjut mengikuti kelas lainnya. Dari merekalah, saya belajar untuk terus menumbuhkan semangat terlepas apa pun yang sudah dilewati, belajar untuk menjalankan tanggung jawab sebagai bentuk konsekuensi atas profesi yang sudah dipilih.

Foto bersama kelas XII

Mendekati persiapan masuk perguruan tinggi, saya juga merasakan pengalaman di beberapa tempat baru, lembaga pendidikan dengan sistem boarding school yang lokasinya cukup jauh dari Primagama. Mendatangi daerah baru yang sebelumnya belum pernah dijajaki menambah luas jangkauan perjalanan. Tema-teman yang saya temui dan pembelajaran yang saya dapat pun berbeda dengan sebelumnya. Teman-teman di kelas jauh tidak pernah kehabisan semangat untuk memberikan respon selama kelas berlangsung. Apresiasi dalam bentuk respon yang mereka berikan selalu menghasilkan energi positif. Mereka menciptakan suasana belajar yang asyik, dengan tetap menjaga efektifitas kelas, diselingi cerita-cerita tentang impian dan keluhan. Dari merekalah, saya belajar bagaimana cara memantik diri agar lebih semangat lagi, bagaimana untuk terus menjaga energi positif.

Pernah suatu ketika, setelah keluar kelas salah seorang teman menghampiri saya dan mengeluhkan tentang kondisi lembaga sekolah yang menurutnya tidak terlalu tegas dalam menindaklanjuti perilaku pelajar yang bertentangan dengan peraturan sekolah. Penyebabnya adalah pelajar yang bersangkutan bisa dengan mudah melaporkan perlakuan yang didapat kepada pihak yang ia kenal dan punya kekuasaan. Keluhannya diakhiri dengan ungkapan kekecewaan. Waw! Disaat teman-temannya yang lain dengan penuh semangat membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan masa depan, ia malah memikirkan keresahan terhadap lingkungannya. Dari sini, saya belajar untuk lebih peduli dengan kondisi sosial di sekeliling saya.

Foto bersama kelas XII MIA 1 ikhwan (kelas jauh)

Foto bersama kelas XII IIS 1 ikhwan (kelas jauh)

Walaupun dari segi semangat teman-teman yang saya temui beberapa kilo meter dari Primaga ini lebih unggul, tetapi teman-teman yang datang langsung ke Primagama juga punya kelebihan lain. Ada satu orang yang cukup menarik perhatian saya karena ketekunannya. Selama kelas berlangsung, ia selalu fokus menyimak dan memahami materi. Dalam kondisi yang sudah lelah karena seharian energinya sudah terkuras di sekolah pun, antusiasmenya masih sangat tinggi. Ketika menemukan hal yang tidak dipahami, pertanyaan akan terus berlanjut sampai ia paham. Karena matematika identik dengan latihan menyelesaikan soal, stok soal yang ia punya tidak pernah habis. Kurang dari 24 jam sebelum tes SNBT pun, semangat untuk latihan mengerjakan soal masih menyala. Dari sini, saya belajar bahwa ketekunan dan konsistensi sangatlah penting dalam menjalankan aktivitas apa pun.

Foto bersama kelas XII gabungan (kelas jauh)

Terakhir, untuk teman-teman yang sedang berjuang dengan tes masuk perguruan tinggi, baik yang sudah selesai mengikuti tes atau pun belum.... Semoga Allah lancarkan semua prosesnya dan semoga Allah mudahkan perjalanan kalian untuk mencapai tujuan yang kalian inginkan. Semangat memasuki dunia perkuliahan dan selamat menikmati proses belajar! Terima kasih atas semua pembelajarannya!

Tulisan ini tidak ada maksud apa-apa, hanya membagikan cerita yang barangkali bisa dibaca kembali ketika sudah menua. Tidak ada maksud untuk mempromosikan lembaga bimbel ini, tapi kalau ada kerabat yang tertarik silakan datang langsung ke Primagama Darmaga. Hehee.

*Semua foto adalah dokumentasi pribadi

Senin, 27 April 2020

Kesehatan adalah bagian terpenting dari kehidupan manusia. Baik sehat secara lahir mapun batin. Tidak perlu membahas masalah kesehatan yang besar. Cukup dari hal kecil saja, gigi dan mulut. Di usia kita sekarang, sudahkah kita menyikat gigi dengan benar? Sudahkah kita memperhatikan kesehatan mulut kita sebagaimana mestinya? Terlebih, di bulan Ramadhan, ini menjadi hal yang sangat penting. Tulisan ini muncul bukan karena fokus saya di bidang tersebut. Saya tertarik menuliskan bahasan mengenai gigi dan mulut setelah mengikuti diskusi online yang diadakan Kelas Online Inspirasi Muslimah (KOIM). Anggap saja ini sebagai insight dari diskusi tersebut.

Poster diskusi online yang diadakan KOIM
Angka penderita sakit gigi karena kurang tepat dalam perawatannya sangat tinggi. Mungkin karena masih jarang ditemukan akibat fatal dari sakit gigi. Tetapi tanpa kita sadari, penyakit pada gigi juga dapat menimbulkan gangguan serius lainnya. Contohnya pada gigi berlubang. Lubang yang dalam menghubungkan gigi dengan saraf dan pembuluh darah. Bakteri dari gigi pun akan masuk ke pembuluh darah, dan bisa berakhir di jantung dan pankreas. Walau bagaimanapun, rongga mulut merupakan gerbang penyakit. Semua makanan dan minuman masuk ke tubuh kita lewat rongga mulut.

Saya sendiri menemukan hal yang lucu tapi nyata. Ternyata selama dua puluh tahun lebih banyak hal keliru yang terbiasa dilakukan dalam merawat gigi dan mulut. Hal paling mendasar adalah menyikat gigi. Saya terbiasa membasahi mulut dan sikat gigi terlebih dahulu. Dan saya pikir ini terjadi pada hampir setiap orang. Dalam kondisi rongga mulut dan sikat gigi yang basah, fluoride yang terkandung dalam pasta gigi tidak akan berfungsi untuk mencegah gigi berlubang. Berkumur dilakukan setelah selesai menyikat gigi. 

Bentuk sikat gigi yang sering digunakan pun tidak tepat. Jika masih menggunakan sikat gigi dengan bentuk persegi dan bulu sikat yang keras, sebaiknya diganti kepala sikat gigi yang ujungnya bulat dan berbulu halus. Dengan menggunakan sikat gigi yang bentuk ujung sikatnya bulat, gigi-gigi di bagian belakang bisa tercapai oleh sikat gigi.

Contoh bentuk sikat gigi yang baik (Photo by Pixabay)
Bagi pengguna rutin obat kumur, sebetulnya tidak direkomendasikan jika kondisi gigi dan mulut baik-baik saja dalam arti masih bisa dibersihkan dengan menyikat gigi. Obat kumur digunakan ketika kita dalam kondisi tidak bisa menyikat gigi, seperti ada bagian rongga mulut yang terluka, sariawan, atau pasca pencabutan gigi. Untuk kondisi rongga mulut yang sehat, cukup dengan menggosok gigi sebanyak dua kali dalam sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur. Pada bulan Ramadhan, lakukan setelah sahur dan sebelum tidur. Alasan tidak direkomendasikannya menggunakan obat kumur terlalu sering adalah keringnya rongga mulut dan sedikitnya air liur yang keluar (xerostomia).

Photo by CNN Indonesia
Selain dari tahapan-tahapan di atas, menyikat gigi menghadap cermin juga penting agar kita tahu bagian gigi mana yang belum dibersihkan. Menyikat gigi tidak bisa hanya mengandalkan perasaan. Berkenaan dengan benar atau tidaknya cara menyikat gigi, Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan hanya 2,3 persen penduduk Indonesia yang menyikat gigi dengan benar. Rata-rata mereka adalah dokter gigi atau tenaga kesehatan yang memahami masalah kesehatan gigi. Diperkirakan tiap orang di Indonesia memiliki empat sampai lima gigi yang rusak. Semoga kesadaran untuk merawat gigi dan mulut dengan benar meningkat.

Sekedar informasi, KOIM mengadakan diskusi rutin dengan tema yang beragam. Jika tertarik untuk bergabung bisa menghubungi narahubung yang tertera di poster diskusi di atas. Khusus muslimah, ya. Bridging yang pas, kan. Hehe.

Selasa, 14 April 2020

Photo by Allie Smith on Unsplash
Sejak dunia dihebohkan dengan munculnya berita mengenai Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di China, virus ini menjadi fokus utama di berbagai negara. Seperti yang dimuat dalam South China Morning Post (SCMP), kasus pertama di China diperkirakan terjadi pada tanggal 17 November 2019. Virus ini mulai menginfeksi seorang pria berusia 55 tahun, asal Provinsi Hubei. Tidak perlu menunggu waktu lama, virus ini menyebar dengan kecepatan yang luar biasa. Jumlah kasus terkonfirmasi semakin meningkat dan tersebar di berbagai negara. Berdasarkan data gugus tugas percepatan penanganan COVID-19, di Indonesia sendiri sampai tanggal 13 April tercatat 4.557 orang yang dinyatakan positif, 380 orang sembuh, sementara yang meninggal mencapai angka 399. Karena penyebaran wabah ini semakin meluas, pada Maret 2020 World Health Organization (WHO) menyatakan COVID-19 sebagai pandemi.

Selama pandemi ini berlangsung, keadaan lingkungan menjadi lebih baik. Hal ini dikarenakan kebijakan karantina wilayah dan pembatasan sosial. Kebijakan ini memaksa masyarakat untuk melakukan semua aktivitas di rumah. Tempat ibadah, pusat perbelanjaan dan tempat-tempat umum lainnya pun ditutup. Semua industri tidak lagi beroperasi. Moda transportasi pun ikut dibatasi. Kondisi-kondisi ini berujung pada berkurangnya polusi dan penurunan emisi karbon. National Geographic menuliskan penjelasan Profesor Rob Jackson, ketua Global Carbon Project yang dilansir dari Reuters, bahwa pada tahun 2020 terjadi penurunan emisi karbon hingga lima persen. Profesor ilmu sistem bumi di Stanford University ini menambahkan bahwa penurunan emisi karbon yang terjadi adalah penurunan paling drastis sejak Perang Dunia II.

Infographic by Liputan 6
Selain itu, karantina dan pembatasan sosial juga berdampak pada eksploitasi alam yang semakin berkurang. Eksploitasi alam menyebabkan habitat fauna hilang dan berpindah ke daerah permukiman warga untuk mencari tempat perlindungan. Kontak antara hewan dengan manusia di kondisi tertentu membuat virus dari hewan dapat berpindah ke manusia melalui pernapasan ataupun kotoran. Untuk membuktikan hal ini, Christine Johnson, peneliti dari University of California, beserta timnya melakukan penelitian mengenai penularan virus dari hewan ke manusia. Dengan data ratusan virus yang menginfeksi manusia dan hewan, penelitian ini membuktikan pernyataan mengenai perpindahan virus tersebut adalah benar. Johnson menjelaskan bahwa eksploitasi alam seperti perburuan dan penebangan hutan liar mengakibatkan populasi hewan bergeser. Pergeseran populasi ini menyebabkan manusia lebih rentan terserang penyakit.

Dampak positif terhadap lingkungan tidak serta merta membuat COVID-19 dianggap sebagai pelindung bumi. Banyak dampak negatif lain yang lebih merugikan. Jumlah sampah medis selama pandemi berlangsung tentu meningkat pesat. Ratusan hingga ribuan nyawa hilang. Kondisi ekonomi melonjak turun. Apalagi jika pandemi tidak kunjung mereda. Beberapa penelitian yang menggunakan model matematika dari beberapa universitas di Indonesia sepakat bahwa perkiraan puncak pandemi berada di bulan Mei atau Juni, dengan kondisi pemerintah tegas mengeluarkan kebijakan dan masyarakat mengikuti kebijakan dengan disiplin. Jika yang terjadi di lapangan adalah kebalikannya, maka puncak pandemi akan semakin mundur. Akhirnya, semakin lama juga pandemi mereda.

Situasi yang terjadi saat ini seharusnya dapat membuat masyarakat sadar bahwa kondisi lingkungan yang baik muncul ketika kita memberikan aksi yang sama baiknya. Contohnya, kondisi alam yang terjaga menghasilkan kulitas udara yang sehat. Pandemi ini dapat dijadikan titik balik untuk mengubah gaya hidup masyarakat. Karena jika perilaku masyarakat tidak berubah, kondisi lingkungan setelah pandemi berakhir akan kembali seperti semula, bahkan bisa lebih buruk. Sebagaimana yang dikhawatirkan oleh National Geographic, bahwa kegiatan yang selama ini tertunda seperti proses produksi di pabrik-pabrik akan meningkat berkali-kali lipat untuk menutupi ketertinggalan selama pandemi. Satu-satunya pilihan adalah menjadi garda terdepan untuk sama-sama menjaga kelestarian alam. Tidak hanya masyarakat umum, tapi semua pihak termasuk pemerintah.

#WAGFLPSumselMenulis
#flpsumsel
#dirumahaja

Minggu, 12 April 2020


Beberapa hari lagi, tanggalan di tahun 2018 sudah melewati pertengahan, lembar kalender akan melangkah ke Juli meninggalkan Juni. Kami yang awalnya lebih dari sepuluh orang, sekarang tersisa tiga orang, masih menjalankan misi sebagai pemandu wisata bagi satu-satunya tamu dari Lampung (yang kebetulan teman kuliah sepupu saya sewaktu di Lampung), selama ia di Bangka. Penjajakan Pulau Bangka dimulai dari Muntok dan berlanjut ke Jebus, Bangka Barat. Belum lelah melakukan nomaden dari satu pantai ke pantai yang lain, kami menyeberang dari Bakit ke Belinyu, destinasi terakhir di itinerary.

Kota kecil di ujung Kabupaten Bangka ini menyimpan banyak pantai dan pulau yang tak habis dikunjungi dalam waktu satu hari. Di sisa hari terakhir, kami memilih Pulau Putri yang berada di tengah Pantai Penyusuk sebagai tempat yang menutup cerita kali ini. Bermalam di sebuah pulau dengan teman seperjalanan yang semuanya perempuan membuat kami memutuskan untuk mengajak satu pemandu tambahan. Akhirnya, rencana sudah dibuat, tekad sudah bulat. Sebelum adzan Magrib mengudara, kami tiba di Pantai Penyusuk, di tempat para pelaut dan nelayan bermukim. Pemilik kapal yang hendak mengantarkan kami terkejut mendengar rencana kami yang ingin bermalam di pulau. Mengingat kondisi cuaca saat itu kurang mendukung dan sedang hujan. Apalagi, kami akan menyeberang saat hari sudah gelap. Melihat kesungguhan yang tak akan terhapus oleh kondisi apapun, pemilik kapal setuju untuk mengantar sekaligus menjemput kami keesokan paginya.

Dengan jas hujan yang masih melekat dan ditemani tiupan angin yang tidak kunjung memelan, kami mendarat dengan selamat di Pulau Putri. Tanpa banyak diskusi kami memilih tanah di balik batu sebagai tempat mendirikan kedua tenda kami, dengan harapan tiupan angin lebih terhalang. Sebagian dari kami langsung sholat dan  sebagian lainnya menyiapkan makan malam setelah tenda berdiri dengan posisi yang kadang tertiup angin ke kanan, kadang ke kiri. Api yang kami harap dapat sedikit menghilangkan kedinginan juga selalu padam saat dihidupkan. Tetesan air dari sisi-sisi jas hujan yang kami bentangkan sebagai atap berteduh di depan tenda hanya memadamkan api dengan dua tetesan, setelah kami mengerahkan tenaga kami lima kali lipat. Tidak banyak yang bisa kami lakukan di tengah pulau tanpa penghuni lain selain kami, pada malam hari ketika cuaca tak bisa diajak berkompromi, selain mengakrabkan diri dan menghabiskan sisa-sisa cemilan dari perjalanan sebelumnya.

Langit pagi yang cerah menyambut kami dengan senyuman, seolah berusaha menghibur dari cuaca buruk semalam. Dengan berapa tegukan kopi dan air mineral, kami menyudahi pembersihan dan pembongkaran tenda. Tepat di samping Pulau Putri, ada daratan yang ditumbuhi banyak pohon mentigi. Karena pohon inilah, pulau ini dinamakan Pulau Mentigi. Eksotisme Pulau Mentigi lebih menonjol dibandingkan dengan Pulau Putri. Dengan kondisi air yang surut, kami bisa berjalan ke Pulau Mentigi tanpa harus berjalan di dalam air. Biasanya, untuk menyeberang harus berenang atau menggunakan kapal saat air setinggi pinggang bahkan lebih.

Daratan Pulau Putri
Jalan yang menghubungkan Pulau Putri dan Pulau Mentigi saat air surut

And... it’s show time! Waktunya untuk benar-benar berwisata dan memenuhi galeri kamera. Dengan bawaan yang memenuhi tas punggung masing-masing, kami berkeliling di dua pulau. Melihat batu-batu yang menyerupai bentuk manusia, mengambil gambar, bersantai di dahan-dahan mentigi, menahan lapar, dan sesekali mengambil cemilan yang sudah habis tigaperempatnya. Bebatuan yang menjulang tinggi di beberapa bagian dan terpecah lebih kecil di beberapa bagian lain, pohon-pohon khas yang memayungi dari sengatan matahari, serta ombak ringan yang menyapu pasir putih di pesisir adalah kombinasi yang tak terkalahkan untuk sebuah pantai. Terlebih saat pulau sepi tanpa ada pengunjung lain, kesan menentramkan dan efek healingnya lebih terasa. Salah satu batu yang populer dan banyak diabadikan pengunjung adalah batu yang menyerupai dua manusia yang sedang berpelukan.

Foto di batu yang menyerupai dua manusia saling berpelukan
Berisitirahat sejenak di pohon mentigi
Walau hampir terlihat sama besar, Pulau Mentigi lebih kecil dari Pulau Putri, dan lebih bersih. Karena pengunjung lebih sering datang ke Pulau Putri. Tak heran, bekas kemasan makanan dan minuman dari yang berusia muda sampai berusia tua terlihat hampir mengelilingi setiap pepohonan di Pulau Putri. Di hari-hari biasa, ada beberapa penjual yang menjajakan makanan di pondok-pondok yang telah disediakan. Dari hasil jual beli inilah, produksi sampah semakin menumpuk. Masalah ini adalah hal umum yang terjadi di rata-rata tempat wisata.

Kesadaran manusia yang masih rendah tidak bisa hanya disodorkan oleh tulisan-tulisan himbauan saja. Untuk mengeluarkan sebuah aksi, dibutuhkan aksi lain sebagai penggerak. Kita tidak bisa terus-terusan menuntut orang lain untuk peduli lingkungan saat kita sendiri berlaku sebaliknya. Jadi, mulailah dari diri sendiri. Walau hanya hal kecil dan tidak terlihat, lama kelamaan akan semakin terlihat dan membesar. Ingat kode etik para pecinta alam (bukan termasuk saya, hehe), “Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak. Jangan mengambil apapun kecuali gambar. Jangan membunuh apapun kecuali waktu.” Semoga kita bisa memaknai lebih dalam peran khalifah yang Allah amanahkan.

Silahkan bertandang menyaksikan eksotisme Pulau Putri dan Pulau Mentigi secara langsung!

Foto bersama di jalanan yang membentang antara Pulau Putri dan Pulau Mentigi

*Semua foto adalah dokumentasi pribadi

Jumat, 27 Maret 2020

Buku adalah salah satu teman dekat saya saat masih bersekolah di sekolah dasar. Semua jenis buku, baik fiksi maupun non fiksi. Salah satu yang paling saya sukai adalah ensiklopedia. Alasannya sederhana. Pertama, karena covernya tebal, kertasnya pun tidak seperti buku biasa. Kedua, di dalamnya banyak ilustrasi menarik yang bisa saya gambar kembali. Jika ensiklopedia yang dibaca mengenai daerah-daerah di Indonesia maupun luar Indonesia, beberapa daerah akan saya tuliskan di buku khusus, seperti menuliskan mimpi-mimpi yang ingin dicapai, tapi ini khusus untuk perjalanan. Salah satu daerah yang pernah saya tuliskan adalah Aceh.

Alhamdulillah, Allah menjawab doa itu di bulan Juli 2019, saat saya di bangku kuliah, melalui jalan yang tak terduga. Allah berbaik hati menghadiahi saya lingkungan dan teman-teman baru yang senantiasa terjaga dan dekat dengan Alquran. Pendek kata, saya menjadi salah satu perwakilan Universitas Sriwijaya di Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional (MTQMN) XVI di Universitas Syiah Kuala, Aceh Besar, cabang debat bahasa arab (debat ilmiah kandungan Alquran). Memang, saya punya latar belakang yang lumayan mendukung. Karena masa SMP saya dihabiskan di pondok pesantren yang mewajibkan berbahasa inggris dan bahasa arab 24 jam. Tapi siapa yang menyangka? Tetap saja saya merasa kemampuan berbahasa arab yang saya miliki masih jauh seperti yang diharapkan. 

Kafilah MTQMN XVI UNSRI sebelum keberangkatan
Qodarullah, karena bekal kami dalam cabang debat bahasa arab belum terisi penuh, kami tidak lolos ke semi final. Kecewa? Tidak sepenuhnya. Karena saya mendapatkan banyak hal, lebih dari yang saya harapkan, yang belum tentu bisa saya dapatkan di lain kesempatan. Jalinan ukhuwah yang semakin meluas, pengalaman baru, cerita baru, dan tentu bisa berwisata ke tempat yang saya impikan.

Kelompok mu'aaridh (kontra) dan muayyid (pro) setelah tampil
Universitas Syiah Kuala, sebagai tuan rumah MTQMN XVI meninggalkan kesan dan pelajaran yang berharga. Hal mengesankan pertama dan patut dijadikan contoh dari Universitas "Jantung Hati Rakyat Aceh" ini adalah usaha mereka dalam meminimalisir sampah plastik. Pihak panitia memberikan botol minuman untuk setiap peserta maupun official dan memberikan himbauan untuk tidak membeli air mineral kemasan. Air minum isi ulang selalu tersedia di asrama peserta, asrama official, dan semua tempat yang digunakan untuk acara. Tempat pembuangan sampah dibedakan untuk sampah makanan, sampah plastik, dan sampah kaleng. Tidak hanya itu, ada sukarelawan yang ditugaskan untuk menjaga tempat sampah agar tidak terjadi kesalahan saat ada yang membuang sampah. Sukarelawan yang bertugas bukanlah petugas kebersihan, tetapi mahasiswa UNSYIAH sendiri. 

Tumbler yang dibagikan oleh panitia dengan latar belakang acara penutupan MTQMN XVI
Selain usaha dari pihak panitia dalam hal kebersihan, gedung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam adalah hal kedua yang mengesankan dari UNSYIAH. Sangat berbeda dengan tampilan fisik gedung FMIPA UNSRI yang sederhana dan berteman dengan alam dalam arti yang sesungguhnya. Gedung FMIPA UNSYIAH berdiri megah, dengan balutan warna krem yang menjadikannya lebih indah. Dengan kemegahannya, gedung ini lebih tampak seperti istana kepresidenan dibandingkan seperti gedung perkuliahan. Mungkin juga karena dibandingkan dengan UNSRI yang relatif lebih sederhana.

Foto di depan jurusan matematika dan jurusan statistika FMIPA UNSYIAH
Terima kasih untuk pihak universitas dan official, yang selalu mendukung dan memfasilitasi dari mulai persiapan hingga waktu perlombaan. Yang paling penting, untuk ustadzunaa, Ustadz Mukmin, walaupun beliau dosen di universitas yang berbeda, tapi tetap membina kami sampai selesai. Tak lupa juga zamiilatii, Kaima, terima kasih pembelajaran dan pengalamannya. Terimong Geunaseh Aceh!

Bersama ustadz dan official. Dari kiri ke kanan: Ustadz Mukmin, Ka Harry, Yusti, Kaima, Ka Hakim, Ustadz John
Untuk siapapun yang sedang membaca, jangan berputus asa dengan mimpi-mimpi kalian. Allah tidak akan pernah menutup telinga untuk hamba-Nya. Terus berdoa dan berusaha!

Selasa, 07 Januari 2020

Ini tulisan blog pertama di tahun 2020. Sebenarnya banyak yang mau ditulis. Saking banyaknya bingung kisah mana yang harus dipublish dulu. Oke, yang terpilih adalah kisah KKNK 2018. Walaupun 2018 sudah lewat, tapi memorinya belum hilang, belum keformat. :v

Universitas Sriwijaya (UNSRI) mengirimkan empat delegasi pada Kuliah Kerja Nyata Kebangsaan (KKNK) tahun 2018, termasuk saya. Kami berempat dari fakultas yang sama dan jurusan yang sama. Dari tahun ke tahun memang info KKNK yang seharusnya diburu mahasiswa malah berlaku sebaliknya di UNSRI. Terlebih, info pendaftaran KKNK ini disebar saat semester pendek, yang mana hanya beberapa fakultas tetap aktif seperti perkuliahan biasa. Karena kurang masifnya info dan minimnya pendaftar, kamilah yang terpilih. Pendaftaran delegasi UNSRI agak terlambat, sehingga info yang harusnya kami terima lebih awal baru diketahui beberapa waktu kemudian.

Delegasi KKNK UNSRI bersama Pembina saat Pembukaan KKNK (Indah, Nisa, Nirwan, Yusti)

Setelah ditempa tiga hari oleh pelatih yang tidak lain adalah Angkatan Laut di Pangkalan AL (LANAL) Pantai Klara, kami berempat ditugaskan mengabdi di Kabupaten Tulang Bawang Barat (TUBABA), tepatnya di empat desa yang berbeda tapi berdekatan. Saya sendiri di Tiyuh Tirta Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Barat. Sekilas info, tiyuh adalah sebutan untuk desa di daerah TUBABA, dan di setiap tiyuh ada RK. Untuk penugasan di Tiyuh Tirta Kencana, ada satu kelompok yang beranggotakan tujuh mahasiswa:
Hilal Isma (Universitas Islam Negeri Sumatera Utara)
Dwiki Timur Pratama (Universitas Hasanuddin)
Dien Muhammad Salam (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa)
M. Fahrurrozy Alwi (Universitas Lampung)
Suci Rukiah Adam (Universitas Negeri Gorontalo)
Widyanti Wibowo (Universitas Airlangga)
Yusti Qomah (Universitas Sriwijaya)

Mahasiswa KKNK Tiyuh Tirta Kencana bersama Kepalo Tiyuh dan Istri
Peleton Way Seputih saat Pembekalan KKNK di LANAL Pantai Klara
Ya, kami bertujuh akan menghabiskan waktu bersama selama kurang lebih satu bulan. Tidur di bawah atap yang sama, menyelesaikan permasalahan tiyuh serta menjalankan visi dengan misi yang sama. Semakin hari tentunya kami semakin akrab dan semakin mengenal satu sama lain. Hal pertama yang tidak bisa dilupakan adalah masakan Bunda Ning (istri kepalo tiyuh), yang berhasil membuat kami lebih makmur dan lebih berat. :v Kondisi tiyuh yang masih asri memberikan ketenangan tersendiri bagi kami. Barisan pohon karet yang berjejer rapi, suara-suara hewan ternak di pekarangan rumah, dan sambutan hangat warga yang sangat disyukuri.

Untuk ukuran desa tempat mahasiswa melakukan KKN, Tiyuh Tirta Kencana tidak terlalu terpencil, relatif dekat dari kota dan minimarket, dan tidak terkendala masalah sinyal. Hanya saja, kondisi jalan tidak terlalu baik. Selain jalan utama masih banyak yang belum diaspal, hanya ditutupi kerikil-kerikil dan tanah. Tingkat keamanan tiyuh pun bisa dibilang masih rendah yang dapat dilihat dari pencurian saat KKN berlangsung. Posko keamanan masih sulit ditemukan, beberapa yang sudah dibangun malah tidak terurus. Saat malam hari, tidak dianjurkan untuk keluar rumah tanpa ditemani warga, dikarenakan tidak ada lampu jalan dan kondisi desa yang masih dikelilingi hutan.

Setiap siang, anak-anak sekolah berdatangan ke posko kami, katanya untuk belajar, belajar sambil bermain lebih tepatnya. Beberapa kali juga diadakan olahraga pagi bersama anak-anak dan warga sekitar. Popularitas kami meningkat dihadapan anak-anak Tiyuh Tirta Kencana. Kebersamaan dengan mereka sangat terasa saat mobil kepalo tiyuh mengantarkan kami ke bis untuk dipulangkan. Ada satu anak yang masih saya ingat sampai sekarang, Abel namanya. Ketika ditanya tentang cita-cita, dia menjawab ingin menjadi dosen matematika. Sebuah profesi yang sangat mulia. Karena konsen saya di bidang matematika, tentu hal ini menarik perhatian saya. Semoga menjadi dosen matematika yang hebat Abel! Tidak ketinggalan dua anak kembar Nona dan Noni yang semakin membuat kami betah dengan keceriaan dan kehebohannya. Oya, satu lagi, anak dari Ibu Supina, yang setia membuntuti kami. Tentu masih banyak teman-teman kecil yang lainnya. Doa yang terbaik untuk kalian semua! :)

Sejujurnya, waktu satu bulan yang bahkan mungkin tidak sampai, adalah waktu yang singkat untuk mengabdi. Masih banyak yang belum kami lakukan. Merasa lebih merepotkan ketimbang membantu. Apalagi saat berpamitan dengan setiap kepala RK dan perangkat tiyuh. Hanya bisa meminta maaf dan mendoakan kemajuan untuk Tiyuh Tirta Kencana.

Jika ingin melihat video singkat tentang kegiatan kami selama KKN bisa disaksikan lewat link berikut:

Berikut juga saya sertakan salah satu media yang memuat berita seputar KKNK 2018 pada saat itu:
641 Mahasiswa dari 55 Perguruan Tinggi akan Ikuti KKN Kebangsaan di Provinsi Lampung

Selasa, 03 Desember 2019

Photo by Adi Goldstein on Unsplash
Sebagai makhluk sosialis, dibutuhkan pihak lain entah untuk membantu atau sekedar menyemangati. Berbekal niat dan tekad saja, terkadang tak cukup untuk mendorong tangan mencoretkan suara hati. Belum cukup agar segenap asa tertuang di atas sebuah karya nyata. Karena itu berterimakasihlah telah dikaruniakan sekumpulan cinta hingga terbentuk kata keluarga.

Keterbatasan jarak untuk bersua tidak menyurutkan aliran semangat antar keluarga. Walau tak pernah mengenal bagaimana bentuk rupa. Satu keluarga dengan tujuan yang sama, berbagi lewat karya. Tidak mudah rasanya menyuarakan sesuatu saat diri pribadi masih dalam ruang abu-abu. Dengan kecukupan bekal, memberanikan diri untuk berjanji terus mengalirkan api semangat kepada anggota keluarga lainnya. Walau kadang pasokan semangat agak surut. Memberanikan muncul dengan tagihan lewat ketikan. Entah apa yang mereka pikirkan, intinya hanya melaksanakan kewajiban.

Ruang pertemuan yang mulanya sepi, mulai diisi dengan obrolan seputar curhatan setumpuk aktifitas. Saling memberi, entah itu bertukar bekal, sepotong kata berisi tambahan bekal, atau ketikan dari suara resah karena beberapa keterbatasan. Pun yang bertindak dalam diam. Yang pasti, selalu kudapati keikhlasan penuh arti.

Selanjutnya, permintaan maaf mengiringi. Untuk tagihan-tagihan yang terus melesat tanpa mengenal siang atau malam, tak lagi melirik kapan waktu istirahat. Atas semua cela yang tercatat. Juga untuk waktu yang masih kurang memprioritaskan. Maaf menyumbangkan setumpuk kekurangan.

Atas nama cinta terhadap pemiliknya, Yang Maha Segalanya, terima kasih keluarga manisku. Terus mengawal niat yang awalnya masih berjingkat hingga perlahan kian meningkat. Mari terus mengisi hari esok dengan karya yang tak berhingga.

*Didedikasikan untuk:
- Keluarga manisku: Esti, Ka Ira, Mba Aisyah, Mba Betwan, Mba Fildza, Bunda Dian, Ka Oma, Mba Ruly, Ka Bachtiar, Ka Putri
- Mba Sari
- Ka Rezky
- Mba Rizka
- Ka Syamsurijal
- Seluruh fighter 30 DWC Jilid 15

#KeluargaManisSquad5
#30DWC
#30DWCJilid15
#Day30
Photo by David Monje on Unsplash
Saat permintaan menghinggapi diri, sudah seyogyanya kita mencari pengkabulan atasnya kepada orang di sekitar kita. Karena yang dekat tentu lebih paham akan segala hakikat. Ada pun yang jauh butuh usaha lebih untuk dipinta hingga luruh, bisa jadi sampai terucap kata keluh.

Sama halnya sebagai yang menghamba. Kita tidak punya hak atas apa-apa. Maka dari itu kita meminta terhadap Yang Maha Segalanya. Sebelum lidah mulai mencicip, kita meminta agar diulurkan keberkahan dan dijauhkan dari azab neraka. Saat bumi dibasahi guyuran air, kita meminta agar diturunkan bersamanya setumpuk manfaat. Kita mengharapkan keselamatan dalam sebuah perjalanan. Setiap detik yang kita isi selalu diawali dengan doa agar bernilai ibadah dan berujung pahala. Ini adalah suatu tanda bahwa kita selalu mengingat-Nya.

Penyerahan kelemahan kita terletak di atas sebuah doa. Tidak mungkin jika kita mengabaikan kelemahan, dan mengedepankan rasa kepemilikan pada apa yang kita punya. Para nabi dan rasul utusan Allah juga selalu berdoa kepada Allah, saat dilimpahkan beban, ujian, maupun kesenangan. Dari para role model umat islam ini pula kita bisa mengambil petikan makna, bahwa berdoa tidak perlu menunggu musibah menimpa.

Malaikat tak akan berhenti mencatat sebelum sangkakala dibunyikan. Dengan runtutan dosa yang kian mengalir, apa kita merasa tak perlu memohon penerimaan taubat? Seorang penyair kala itu berkata, “Engkau melakukan dosa demia dosa. Lalu engkau berharap mendapat surga. Lupakah engkau bahwa Rabbmu mengeluarkan Adam dari surga hanya karena satu dosa?” Lalu siapa kita jika disandingkan dengan utusan Allah?

Tidak akan ada sedikit pun kecewa jika berharap kepada-Nya. Allah sudah menjelaskan dalam ayat-Nya, bahwa Ia dekat jika kita ingat. Jadi, tetaplah merendahkan diri, jangan menjadi hamba yang jumawa hanya untuk gelar budak dunia.

#30DWC
#30DWCJilid15
#Day27
Photo by Mihai Surdu on Unsplash
Hadits yang driwayatkan oleh Imam Muslim tentang hak seorang muslim atas muslim yang lainnya menyebutkan salam pada urutan pertama. Lengkapnya, “Jika engkau bertemu dengan saudara muslimmu, ucapkan salam.” Benar, identitas kita sebagai seorang muslim adalah memulai pertemuan dengan ucapan salam. Salam adalah salah satu adab sesama muslim. Sedangkan Islam menekankan adab di atas ilmu. Ibnu Mubarak r.a. menegaskan bahwa beliau menghabiskan waktu selama 30 tahun untuk mempelajari adab dalam islam. Kemudian disusul dengan mempelajari ilmu dalam kurun waktu 20 tahun. Demikian pentingnya berakhlak mulia bagi seorang muslim.

Ucapan salam juga berarti doa terhadap saudara. Doa akan keselamatan dan keberkahan. As-Salam juga merupakan bagian dari asma Allah. Dalam kata lain, saat mengucapkan dan menjawab salam, kita akan aman dari keburukan dan mara bahaya, sebab Allah melindungi kita sebagai hamba-Nya. Sebagaimana Nabi Adam mengucapkan salam kepada para malaikat ketika diciptakan, “Assalamu’alaikum.” Malaikat menjawab dengan ditambahkan, “Warahmatullah wa barakatuh.” Penambahan ini diucapkan saat malaikat mendengar nama Allah As-Salam disebutkan. 

Dalam riwayat lain juga Rasulullah bersabda untuk saling mengucapkan salam sesama muslim. Yang berdiri mengucapkan kepada yang duduk, saat sedang berkendara ucapkan salam kepada yang berjalan, dan yang muda terlebih dahulu menyampaikan salam terhadap yang lebih tua.

Pada praktiknya, kita bisa mengucapkan salam saat memasuki ruangan. Sebagai pembeli di sebuah tempat penjualan, sampaikan jua salam kepada yang berdagang. Selayaknya hadits tadi, saat mengendarai motor tebarkanlah salam kepada yang mengendarai sepeda. Yang mengendarai sepeda turut menyebarkan keselamatan dan keberkahan terhadap pejalan kaki. Begitu seterusnya tanpa memandang status saudara muslim tersebut. 

Jangan turut menandai hari kiamat dengan mengucapkan salam hanya pada kerabat muslim yang kita kenal. Sebab Rasul mengatakan bahwa salah satu tanda kiamat adalah ketika seorang muslim mengucapkan salam hanya kepada yang ia kenal saja. Dan jangan menjadi muslim yang perhitungan. Karena utusan Allah, nabi akhir zaman bersabda, “Tidaklah aku temui orang yang lebih pelit darimu kecuali orang yang pelit dalam mengucapkan salam.” Mari kokohkan kembali identitas umat Muhammad dengan menebarkan harapan keselamatan dan keberkahan melalui untaian salam.


#30DWC
#30DWCJilid15
#Day26
Menawannya kisah perjuangan salah satu imam besar umat islam yakni Imam Ahmad bin Hanbal acap kali menghiasi kisah-kisah teladan yang disampaikan orang tua ke buah hati mereka. Dari mulai tempaan hebat ibunda, kondisi keluarga yang berada di bawah kecukupan, hingga sang ayahanda yang lebih dulu menutup kehidupan. Hebatnya, keimanan yang diwariskan tidak membuat Imam Ahmad dan ibunya mengedepankan keterbatasan.

Berbekal sedikit roti kering dan garam, sang ibu menyuruh putranya untuk melakukan perjalanan demi sebuah pendidikan. Masih lekat ucapan ibu Imam Ahmad saat melepas kepergiannya, “Jika kita menitipkan sesuatu kepada Allah, tidak akan disia-siakan-Nya. Aku titipkan dirimu kepada-Nya, dzat yang tidak pernah menelantarkan titipan.” Sungguh mulianya sang ibu, sekaligus mengharukan.
Iman dan tawakal menjadi teman di sepanjang perjalanan, untuk menjadi seorang ahli hadits. Tanpa GPS, saat tersesat, Imam Ahmad berdoa untuk ditunjukkan jalan. Belum habis beliau melapalkan doa, Allah sudah bukakan jalan untuknya. Inilah kekuatan doa. Selama kita mengingat dan menjaga Allah di hati kita, Allah pun akan mengingat dan menjaga kita.

Saat sudah dikenal sebagai ulama yang kaya akan ilmu pengetahuan dengan jutaan hadits di luar kepala yang sanggup ia lontarkan kapan saja, beliau tetap rendah hati dan membumi. Prinsip zuhud tertanam kuat ketika Imam Ahmad sudah berumah tangga. Anaknya, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengisahkan bahwa sang ayah tidak pernah mengganti sepatu selama 18 tahun. Setiap ada bagian yang robek, Imam Ahmad akan menjahit dengan tangannya sendiri.

Seorang yang bergelar imam, selalu ditumpahkan pujian dan sanjungan kerap membalas dengan kerendahan hatinya, “Kita adalah orang-orang miskin. Jika bukan karena Allah menutup aib kita, semua orang akan tahu kejelekan kita.” Terkadang pun, saat seharusnya pujian membuat manusia tersenyum dan besar kepala, beliau malah menjawab, “Menurutku itu adalah istidraj dari Allah.”

Hikayat di atas hanyalah bagian kecil dari luasnya keteladanan seorang Imam Ahmad. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya, dan mempertemukan kita di jannah-Nya.

#30DWC
#30DWCJilid15
#Day25
Photo by Taman Buku Tintin

Perpustakaan identik dengan larangan berbicara ataupun mengeluarkan suara terlalu keras. Sama halnya dengan peraturan yang berlaku di perpustakaan yang sedang kami tempati berdua sekarang. Di salah satu pojokan bagian buku bahasa asing, kami duduk bersampingan dengan satu buah laptop seperangkat dengan casan, satu pena dan buku serta ponsel. Masih empat jam sebelum mendapat usiran halus dari penjaga perpus karena waktu berkunjung sudah habis.

Ruangan dengan bau khas tumpukan buku ini menjadi tempat kunjungan favorit kami dua minggu terakhir ini. Meskipun dengan tujuan selain membaca buku-buku usang tersebut. Membaca status di media sosial, membaca raut wajah orang-orang yang datang, sampai membaca pikiran dosen yang sedang dalam mood buruk tadi di kelas.

Kegiatan konyol berawal dari temanku yang mengakses internet tapi jaringan perpustakaan kurang mendukung. Alhasil ia malah menekan-nekan tombol spasi di keyboard, meloncat-loncatkan naga agar tidak tertusuk duri kaktus yang tak nyata. Bermain game di salah satu web browser. Aku yang mulai kehabisan ide untuk melakukan apa, juga turut serta membuka web browser tersebut. Ikut meloncat-loncatkan naga di dunia maya. Teknologi memang memudahkan, malah menjadikan suatu hal yang mustahil terjadi jika dipikirkan. Bayangkan saja jika di dunia nyata, dengan menekan suatu tombol orang-orang bisa membuat naga meloncat. Membayangkan naga muncul di kehudipan saja sudah membuatku bergidik.

Yang menarik perhatian mata-mata di sekeliling kami, suara naga yang meloncat-loncat ini disetel dengan level cukup tinggi. Terlebih, disuarakan dari dua sumber yang berbeda, menambah besar level keberisikan di perpus. Ah, masa bodoh. Tampaknya kami terlalu mengamalkan bakat seni yang disalurkan setelah membaca buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat.

#30DWC
#30DWCJilid15
#Day 24

*Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat bisa dibeli di Taman Buku Tintin, hanya Rp 72.000 saja (bridging yang pas sekali :v)
Photo by Yusti Qomah
Berbagai postingan di media sosial tentang ayah memutarkan kembali memori lama di saat masih tinggal di bawah atap yang sama. Pada sesosok panutan yang kupanggil aba. Ada segerombolan kisah yang memanggil dari kejauhan, menelusupkan rindu. Berat, menahan ingin bertemu.

Dengan keseharian yang diatur oleh waktu, masa kecilku hanya disisihkan jatah satu jam untuk bercengkerama dengan sahabat sebaya di sore hari. Berbeda dengan teman-teman kebanyakan, tidak ada yang berani memanggilku ke rumah meski hanya untuk panggilan bermain. Alhasil, aku kerap membuntuti aba ke sana kemari dengan motor merah putih kebanggaannya. Saat mesin motor dihidupkan, kakiku langsung merespon untuk berlari, mendarat manis di boncengan belakang. Siap melaju, menggenggam erat pinggiran kaos aba. Entah keikutsertaanku malah mengganggu pekerjaannya atau tidak, aku hanya bosan di rumah.

Pun dengan diriku yang sudah beranjak dewasa sekarang, kesigapanku dalam merespon mesin motor aba yang dinyalakan saat ingin pergi ke suatu tempat tidak berubah. Walapun tidak lagi seperti masa kecil dulu, selalu turut serta ke mana saja. Tapi tetap saja, sisi merepotkanku belum hilang. Aba tetap kuandalkan ketika berpergian ke tempat-tempat tertentu.

Aba bukan sosok yang rela menguras dompet untuk membelikanku berbagai barang baru. Untuk sebuah buku pun butuh berjam-jam sampai jatuh ke tanganku, tentu disertai jurus jitu dari putri kecilmu. Ibuku bilang, itu hanya pelit versi tersirat. Beliau juga tergolong cuek untuk menjadi pendengar kisahku. Tapi hal itu tidak menyurutkan rasa sayangku. Nasihat-nasihat yang lekat di pikiran, yang aba petuahkan, kian menambah keinginan untuk bersua, segera. Aku tetaplah putri kecilmu yang dulu. Semoga tetap, selalu.

#30DWC
#30DWCJilid15
#Day23
Photo by Aaron Burden on Unsplash
“Jangan lupa masukin motor, udah malem.” Ucapan demikian maupun yang serupa hampir setiap malam masuk ke telingaku. Seiring dengan kasus pencurian yang marak terjadi belakangan ini. Beberapa dari penghuni kosan ini sudah pernah menjadi korban. Mulai dari kehilangan handphone, laptop, bahan tugas akhir, hingga kehilangan minat untuk melanjutkan hidup. Biasanya dimulai dengan tangisan berdarah-darah, dan akhirnya sampai ke tahap tangisan pasrah.

Terkesan berlebihan, tapi kondisi riilnya memang demikian. Kehilangan barang kecil yang kurang penting pun membuat kelimpungan pemiliknya. Seolah semua hal yang dilakukan bergantung pada barang tersebut. Padahal banyak orang yang bahkan tidak pernah mendapat kesempatan untuk memiliki barang kecil itu, tapi kehidupannya jauh lebih baik. Kurang pas rasanya jika mengatasnamakan keterbatasan untuk berbuat kebaikan.

Tampaknya kita sudah melewati batas dalam mengambil hak atas segala yang kita miliki. Kita menganggap bahwa itu memang atas usaha yang sudah dilakukan, tanpa ada campur tangan siapapun. Saat membaca atau mendengar bahwa semuanya hanya titipan, hati kecil akan menjawab, “tau kok.”  Tapi apalah arti tahu jika dibarengi dengan ketakutan. Takut kehilangan yang bukan milik kita. Sepantasnya kita malu meletakkan kepemilikan atas nama sendiri pada milik orang lain dan kemudian marah saat diambil kembali oleh pemiliknya.

Ketakutan dihasilkan dari diri sendiri. Dari pribadi yang merasa memiliki atas segala yang dititipkan. Dengan segenap jiwa akan dijaga agar tidak pergi, bahkan dijaga agar tidak bisa diambil kembali saat masa titip berakhir. Ingatlah kawan, titipan tidak bisa diklaim menjadi kepemilikan.

#30DWC
#30DWCJilid15
#Day22

haa hiya dzih

Foto saya
Penulis yang merupakan gadis kelahiran Bangka dan akrab disapa Yuqo ini memiliki nama lengkap Yusti Qomah. Inilah jurnal dari penulis dengan beribu mimpi, ditulis dalam segala kondisi.

Popular Posts

Recent Posts