Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juni 2020

Pandemi menjadikan dunia kita hanya berputar di dalam rumah. Hal-hal yang semula bisa dilakukan secara langsung, sekarang serba online. Keadaan ini jelas membuat para traveler kelimpungan. Alih-alih bisa menghabiskan waktu di beberapa destinasi wisata dalam satu bulan, sekarang hanya bisa menghabiskan waktu di rumah. Jalan-jalan virtual adalah salah satu alternatif untuk memuaskan pikiran dari bayangan-bayangan destinasi wisata yang muncul berdesak-desakan. Melihat tempat wisata sembari mengisi bucket list, mencatat tempat mana saja yang akan dikunjungi nantinya. Ataupun membuka folder-folder lama, mengenang cerita dari setiap hasil jepretan dan rekaman.

Jadi, mari sejenak membuka folder Aceh, provinsi yang sempat saya kunjungi sekitar pertengahan tahun 2019 silam. Dikenal dengan nilai religiusnya yang tinggi, daerah ini menawarkan banyak destinasi wisata. Meskipun dikelilingi banyak pantai, ada berbagai macam tempat wisata lain yang tidak kalah menarik. Berikut beberapa destinasi wisata selain pantai yang harus dikunjungi saat singgah ke Aceh:

1. Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Baiturrahman tampak depan
Hal pertama yang membius indra penglihatan ketika sampai di Aceh adalah bangunan masjidnya, dengan arsitektur bergaya islami-modern yang khas sekaligus megah. Masjid yang paling dikenal adalah Masjid Baiturrahman. Masjid yang menjadi ikon Provinsi Aceh ini terletak di pusat Kota Banda Aceh. Kekaguman saat melihat secara langsung berbeda ketika hanya melihat dari foto. Kubah yang berwarna hitam dan dominasi putih pada dindingnya menjadikan masjid ini terlihat sangat berbeda dari masjid lainnya. Selintas, gaya bangunan masjid ini mirip dengan Taj Mahal atau bangunan-bangunan di India. Ternyata, Masjid Baiturrahman memang didesain dengan mengadopsi gaya bangunan Mughal. Payung-payung yang berbaris di halaman depan masjid seolah menerbangkan kita ke Masjid Nabawi. Suasana kedamaian yang dihadirkan membuat kita ingin berlama-lama di sana, untuk beribadah atau hanya sekedar duduk di pelataran. Jalanan sekitar masjid dipenuhi dengan warga lokal yang menjajakan makanan, minuman, dan oleh-oleh khas Aceh. Menjelang ibadah salat Jumat, jalanan tersebut yang biasanya ramai dan susah dilewati menjadi sepi, tidak ada satupun yang melakukan aktivitas jual beli. Tidak heran jika provinsi ini mendapat julukan Serambi Mekah. Masjid Baiturrahman sendiri dibangun oleh salah satu kerajaan islam di Aceh. Dengan kekhasan dan nilai historisnya, masjid ini cocok dijadikan tempat tujuan wisata religi. 

2. Museum Tsunami

Dinding di salah satu ruangan yang dipenuhi nama korban
Bencana Tsunami yang sempat menggemparkan Indonesia pada tahun 2004 menyisakan banyak jejak, salah satunya adalah museum tsunami. Tidak hanya masjid, museum ini juga memiliki desain arsitektur yang unik dan istimewa. Bila dilihat dari atas, bangunan museum berbentuk gulungan ombak, yang menggambarkan tsunami itu sendiri. Saat melangkahkan kaki melewati pintu masuk, beberapa benda-benda rusak yang diakibatkan tsunami langsung menyambut. Kemudian, untuk sampai ke ruangan selanjutnya, kita akan melewati lorong tsunami. Lorong ini dibuat seolah-olah para pengunjung diminta untuk merasakan amukan gelombang untuk beberapa menit. Dengan suara gemuruh, aliran air di kiri dan kanan, dan sedikit percikan kita bisa ikut merasakan sedikit kisah tragis saudara-saudara kita dulu. Ruangan selanjutnya berisi kotak-kotak kaca yang memuat potongan kejadian-kejadian penting saat tsunami. Kemudian, ada bilik kecil yang dindingnya dipenuhi oleh nama-nama korban tsunami. Dalam bilik ini, jika kita mendongak ke atas akan kita dapati tulisan Allah. Ruangan kecil ini mengingatkan setiap pengunjung, bahwa tidak akan ada yang dapat memperkirakan kematian. Kapan, di mana, dan dengan siapa. Sepanjang tangga menuju lantai kedua, di bagian atasnya terdapat tulisan damai yang diterjemahkan  ke dalam berbagai bahasa. Kita juga bisa menyaksikan kembali rekaman video saat bencana tsunami terjadi di salah satu ruangan di lantai dua. 

Lafaz Allah yang terlihat di salah satu ruangan museum tsunami
3. Titik Nol Kilometer di Sabang

Tugu nol kilometer Indonesia
Belum lengkap perjalanan ke Aceh jika tidak menyeberang ke Sabang. Dengan menggunakan kapal cepat, dibutuhkan waktu sekitar satu jam atau lebih untuk sampai ke Sabang. Sampai di Sabang, kita bisa menggunakan angkutan yang tersedia untuk mengantarkan sampai ke titik nol kilometer. Jalan yang ditempuh pun berliku. Setelah terombang-ambing di laut, perjalanan dari pelabuhan di Sabang ke titik nol kilometer yang tidak sebentar bisa menyebabkan kepala pusing. Tapi akan langsung hilang setelah kita menginjakkan kaki di depan tugu titik nol kilometer dengan pemandangan lautan yang membentang tak berujung. Para penjual makanan, minuman, dan oleh-oleh berlabel titik nol kilometer memenuhi kanan dan kiri jalan, sibuk memanggil pembeli dengan meneriakkan dagangannya. Jika foto tidak cukup sebagai penyimpan cerita di titik nol kilometer, kita bisa mencetak semacam sertifikat yang menandakan bahwa kita sudah pernah mendatangi titik ini. Tentu saja tidak gratis.

4. Brayeung Leupung

Suasana di Brayeung Leupung
Sisi lain Brayeung Leupung dari perahu bebek kayuh
Brayeung Leupung merupakan objek wisata alam yang masih alami, sebuah tempat pemandian di kaki bukit. Tepatnya di Kecamatan Leupung, Aceh Besar. Setelah menempuh perjalanan satu jam dari Banda Aceh, kita akan disambut dengan air jernih dan dingin, udara sejuk, dengan beberapa gazebo untuk melepas penat, serta pohon-pohon yang membuat tempat ini teduh. Jalanan ketika memasuki daerah ini memang sempit, saat ada dua mobil berpaspasan, harus ada satu mobil yang menepi sejenak. Brayeung Leupung merupakan destinasi wisata yang family friendly. Cocok untuk berwisata bersama keluarga, membawa anak kecil pun tidak masalah. Untuk tempat pemandian, ada bagian dangkal untuk anak-anak dan area yang dalam untuk orang dewasa. Jika ingin menikmati sejuknya air tanpa basah-basahan, kita bisa menyewa perahu karet atau perahu bebek kayuh yang tersedia dengan merogoh kocek dua puluh ribu per jam. Setelah lelah bermain dengan air, kita bisa mengisi perut dan menghilangkan dahaga dengan bekal bawaan atau menuju warung kecil yang berjejer di sisi-sisi tempat pemandian.

Empat objek wisata di atas bisa dimasukkan ke dalam itinerary saat melakukan perjalan ke Aceh. Untuk sampai ke empat tempat tersebut, ada beberapa pilihan transportasi yang dapat digunakan, seperti Trans Kutaraja, labi-labi, kendaraan pribadi, serta ojek atau taksi online.  Labi-labi adalah transportasi yang menyerupai mobil pick up dan hanya bisa ditemui di Aceh. Semoga pandemi segera berakhir dan tempat-tempat wisata kembali ramai dikunjungi. Selamat melanjutkan perjalanan virtual ke berbagai tempat lainnya!


*Semua foto adalah dokumentasi pribadi

Minggu, 12 April 2020


Beberapa hari lagi, tanggalan di tahun 2018 sudah melewati pertengahan, lembar kalender akan melangkah ke Juli meninggalkan Juni. Kami yang awalnya lebih dari sepuluh orang, sekarang tersisa tiga orang, masih menjalankan misi sebagai pemandu wisata bagi satu-satunya tamu dari Lampung (yang kebetulan teman kuliah sepupu saya sewaktu di Lampung), selama ia di Bangka. Penjajakan Pulau Bangka dimulai dari Muntok dan berlanjut ke Jebus, Bangka Barat. Belum lelah melakukan nomaden dari satu pantai ke pantai yang lain, kami menyeberang dari Bakit ke Belinyu, destinasi terakhir di itinerary.

Kota kecil di ujung Kabupaten Bangka ini menyimpan banyak pantai dan pulau yang tak habis dikunjungi dalam waktu satu hari. Di sisa hari terakhir, kami memilih Pulau Putri yang berada di tengah Pantai Penyusuk sebagai tempat yang menutup cerita kali ini. Bermalam di sebuah pulau dengan teman seperjalanan yang semuanya perempuan membuat kami memutuskan untuk mengajak satu pemandu tambahan. Akhirnya, rencana sudah dibuat, tekad sudah bulat. Sebelum adzan Magrib mengudara, kami tiba di Pantai Penyusuk, di tempat para pelaut dan nelayan bermukim. Pemilik kapal yang hendak mengantarkan kami terkejut mendengar rencana kami yang ingin bermalam di pulau. Mengingat kondisi cuaca saat itu kurang mendukung dan sedang hujan. Apalagi, kami akan menyeberang saat hari sudah gelap. Melihat kesungguhan yang tak akan terhapus oleh kondisi apapun, pemilik kapal setuju untuk mengantar sekaligus menjemput kami keesokan paginya.

Dengan jas hujan yang masih melekat dan ditemani tiupan angin yang tidak kunjung memelan, kami mendarat dengan selamat di Pulau Putri. Tanpa banyak diskusi kami memilih tanah di balik batu sebagai tempat mendirikan kedua tenda kami, dengan harapan tiupan angin lebih terhalang. Sebagian dari kami langsung sholat dan  sebagian lainnya menyiapkan makan malam setelah tenda berdiri dengan posisi yang kadang tertiup angin ke kanan, kadang ke kiri. Api yang kami harap dapat sedikit menghilangkan kedinginan juga selalu padam saat dihidupkan. Tetesan air dari sisi-sisi jas hujan yang kami bentangkan sebagai atap berteduh di depan tenda hanya memadamkan api dengan dua tetesan, setelah kami mengerahkan tenaga kami lima kali lipat. Tidak banyak yang bisa kami lakukan di tengah pulau tanpa penghuni lain selain kami, pada malam hari ketika cuaca tak bisa diajak berkompromi, selain mengakrabkan diri dan menghabiskan sisa-sisa cemilan dari perjalanan sebelumnya.

Langit pagi yang cerah menyambut kami dengan senyuman, seolah berusaha menghibur dari cuaca buruk semalam. Dengan berapa tegukan kopi dan air mineral, kami menyudahi pembersihan dan pembongkaran tenda. Tepat di samping Pulau Putri, ada daratan yang ditumbuhi banyak pohon mentigi. Karena pohon inilah, pulau ini dinamakan Pulau Mentigi. Eksotisme Pulau Mentigi lebih menonjol dibandingkan dengan Pulau Putri. Dengan kondisi air yang surut, kami bisa berjalan ke Pulau Mentigi tanpa harus berjalan di dalam air. Biasanya, untuk menyeberang harus berenang atau menggunakan kapal saat air setinggi pinggang bahkan lebih.

Daratan Pulau Putri
Jalan yang menghubungkan Pulau Putri dan Pulau Mentigi saat air surut

And... it’s show time! Waktunya untuk benar-benar berwisata dan memenuhi galeri kamera. Dengan bawaan yang memenuhi tas punggung masing-masing, kami berkeliling di dua pulau. Melihat batu-batu yang menyerupai bentuk manusia, mengambil gambar, bersantai di dahan-dahan mentigi, menahan lapar, dan sesekali mengambil cemilan yang sudah habis tigaperempatnya. Bebatuan yang menjulang tinggi di beberapa bagian dan terpecah lebih kecil di beberapa bagian lain, pohon-pohon khas yang memayungi dari sengatan matahari, serta ombak ringan yang menyapu pasir putih di pesisir adalah kombinasi yang tak terkalahkan untuk sebuah pantai. Terlebih saat pulau sepi tanpa ada pengunjung lain, kesan menentramkan dan efek healingnya lebih terasa. Salah satu batu yang populer dan banyak diabadikan pengunjung adalah batu yang menyerupai dua manusia yang sedang berpelukan.

Foto di batu yang menyerupai dua manusia saling berpelukan
Berisitirahat sejenak di pohon mentigi
Walau hampir terlihat sama besar, Pulau Mentigi lebih kecil dari Pulau Putri, dan lebih bersih. Karena pengunjung lebih sering datang ke Pulau Putri. Tak heran, bekas kemasan makanan dan minuman dari yang berusia muda sampai berusia tua terlihat hampir mengelilingi setiap pepohonan di Pulau Putri. Di hari-hari biasa, ada beberapa penjual yang menjajakan makanan di pondok-pondok yang telah disediakan. Dari hasil jual beli inilah, produksi sampah semakin menumpuk. Masalah ini adalah hal umum yang terjadi di rata-rata tempat wisata.

Kesadaran manusia yang masih rendah tidak bisa hanya disodorkan oleh tulisan-tulisan himbauan saja. Untuk mengeluarkan sebuah aksi, dibutuhkan aksi lain sebagai penggerak. Kita tidak bisa terus-terusan menuntut orang lain untuk peduli lingkungan saat kita sendiri berlaku sebaliknya. Jadi, mulailah dari diri sendiri. Walau hanya hal kecil dan tidak terlihat, lama kelamaan akan semakin terlihat dan membesar. Ingat kode etik para pecinta alam (bukan termasuk saya, hehe), “Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak. Jangan mengambil apapun kecuali gambar. Jangan membunuh apapun kecuali waktu.” Semoga kita bisa memaknai lebih dalam peran khalifah yang Allah amanahkan.

Silahkan bertandang menyaksikan eksotisme Pulau Putri dan Pulau Mentigi secara langsung!

Foto bersama di jalanan yang membentang antara Pulau Putri dan Pulau Mentigi

*Semua foto adalah dokumentasi pribadi

Kamis, 31 Oktober 2019


Salah satu kearifan lokal yang menjadi ciri khas Pulau Bangka dapat dilihat dari batu-batu uniknya. Baik yang berada di pesisir pantai maupun yang tersebar di berbagai daerah. Batu-batu ini memiliki keunikan karena menyerupai bentuk yang sering ditemui di kehidupan sehari-hari. Beberapa batu itu seperti batu berbentuk perahu, batu yang tinggi dan rata seperti dinding, batu dengan bentuk katak, sampai batu yang berbentuk belimbing. Masing-masing memiliki kisah tersendiri di baliknya, legenda. Legenda inilah yang selalu dikisahkan turun temurun di tiap masa. 

Batu belimbing sendiri sebagai salah satu yang memiliki bentuk khas terletak di dua tempat, yaitu di Kabupaten Bangka Selatan dan satu lainnya di Kabupaten Bangka Barat. Adapun batu belimbing yang terletak di Jebus, Bangka Barat, letaknya cukup jauh. Selain itu, medan tempuh yang kurang mendukung juga menjadi faktor tidak terlalu dikenalnya batu ini oleh khalayak. Padahal, menikmati bentangan alam dari ketinggian ditambah suasana perkebunan sawit di sekelilingnya merupakan hal yang menakjubkan. Jika ingin lebih puas mengamati keindahan bentuknya, disarankan untuk tidak langsung naik ke batu belimbing yang menjadi objek utama. Tapi, ke batu lain yang berada tepat di depannya.

Berkunjung ke objek wisata ini lebih tepat jika mengajak warga setempat untuk ikut serta. Selain sebagai pemandu jalan, mereka akan membantu menjajaki jalan terjal ke atas batu. Walapun berada di tengah hutan dan kebun, percayalah panorama nan hijau yang telah disuguhkan dapat menjadi terapi tersendiri bagi penglihatan. Terlebih setelah berjam-jam memandangi layar ponsel dan laptop.

#30DWC
#30DWCJilid15
#Day10

 

Bukit Sempan adalah salah satu dari sekian bukit di Kabupaten Bangka, tepatnya di Desa Sempan. Dengan tiket masuk seharga Rp 5.000 kita bisa membawa kendaraan roda dua sampai tempat yang disediakan. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki ke atas bukit kurang lebih selama 5 menit. Bagi yang tidak terbiasa berolahraga atau berjalan kaki dengan medan yang menanjak perjalanan singkat ini cukup membuat keringat mengucur dan membuat napas ngos-ngosan. Tapi kelelahan awal ini tidak terlalu berarti jika sudah melihat panaroma dari puncak bukit. Untuk mengisi ulang energi yang terkuras saat mendaki, pengunjung  bisa membawa bekal berupa air minum dan makanan sembari duduk santai di beberapa spot yang dibuat sedemikian rupa. Jika tidak ingin repot-repot menambah beban saat mendaki pengunjung juga bisa mengandalkan makanan dan minuman yang dijajakan di warung pondok kayu.  Tapi jangan terlalu berharap jika sedang padat pengunjung, ketersediaan air minum terbatas. 

Tidak perlu khawatir akan tempat bersantai yang terbatas, ada cukup tempat di dua bagian puncak bukit. Terdapat beberapa kursi, ayunan, dan tempat foto yang menarik. Spot foto ini bisa berupa lantai kayu yang dibuat di atas pohon dengan beberapa tingkatan, kata-kata bijak yang tertulis di papan, sangkar burung, replika jam di dinding kayu, juga tempat bersantai yang sudah disebutkan sebelumnya. Sangan cocok untuk kawula muda. Para orang tua juga bisa mengajak keluarganya berekreasi ke sini, walau tidak terlalu disarankan, terlebih jika membawa anak balita. Keuntungan membawa anak di bawah umur adalah tidak perlu merogoh kocek untuk tiket masuk.

#30DWC
#30DWCJilid15
#Day8






Senin, 22 Oktober 2018


Pulau Bangka sebagai salah satu destinasi wisata menyimpan sejuta pesona yang mampu memanjakan mata. Pulau yang menjadi bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini didominasi oleh pantai dan pulau-pulau kecil sebagai objek wisatanya. Salah satu pulau yang ramai dikunjungi adalah Pulau Ketawai, yang berlokasi di Kabupaten Bangka Tengah. Untuk menikmati panorama di pulau hanya bisa dilakukan dengan satu alternatif, yaitu dengan mengendarai perahu kecil selama kurang lebih tiga puluh sampai empat puluh lima menit. Dalam kondisi gelombang yang cukup tinggi, perlu waktu lebih lama untuk sampai. Tapi keuntungannya perjalanan lebih meriah dengan cipratan air akibat kecepatan perahu yang bertabrakan dengan riaknya gelombang. Selama terombang-ambing di tengah laut, perahu akan membentur karang yang berujung pada punahnya habitat karang di bawah laut. Hal ini yang sangat disayangkan. 

Fasilitas yang disediakan di pulau cukup memadai. Mushola kayu bernuansa alam berdiri tegak di tengah pulau. Air bersih selalu siap sedia. Toilet pun bersih dan nyaman untuk digunakan. Penerangan di malam hari tetap menggunakan aliran listrik. Lebih dari cukup untuk kehidupan yang jauh dari pemukiman. 

Terkadang, pengunjung juga diajak ke Pulau Gusung Asam,pulau kecil di sebelah Pulau Ketawai tanpa menambah biaya penyebrangan. Pulau Gusung Asam menawarkan kedamaian bagi tipe penyendiri. Sunyi, seakan milik pribadi. Pulai ini juga lebih terjaga dari Pulau Ketawai. Mungkin karena intensitas pengunjung yang datang ke Pulau Ketawai lebih tinggi. Bintang laut masih banyak ditemukan di pesisir pantai. Dari yang kecil sampai yang besar, dengan warna yang beragam. Yang mana menandakan air pantai di sekitar pulau masih sangat terjaga.

Bermalam di pulau adalah pilihan yang tepat, bertransformasi sejenak ke kehidupan anak pantai. Menatap langit malam, bercengkrama di pesisir pantai, ataupun berdialog bisu dengan bintang, tanpa mengenyampingkan Kebesaran Sang Pencipta. Beberapa hal ini dapat dijadikan sebagai self-healing. Mengistirahatkan diri dari hiruk pikuk panggung sandiwara.

Dunia terlalu luas untuk dihabiskan hanya dengan gerakan-gerakan ujung jari, sob.









#30DWC #30DWCJilid15 #Day2

Sabtu, 14 Juli 2018


Mentok, ibu kota dari Bangka Barat ini juga menyimpan banyak wisata alam. Salah satunya ialah Pantai Tanjung Kalian, dengan mercusuar menjulang tinggi yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Naik dan turun mercusuar memerlukan waktu kurang lebih 5-10 menit. Dengan mengantongi uang Rp 5.000, kita bisa menikmati sunset dari ketinggian. Pantai Tanjung Kalian sendiri terletak tempat di samping pelabuhan Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Masuk ke dalam lingkup pantai pun tidak dipungut biaya.

Jika pengunjung ingin bermalam atau camping di sekitar pesisir pantai, jangan lupa menyisipkan keramahtamahan dengan bapak-bapak penjaga di situ. Hal yang paling penting adalah meminta izin. Selain untuk izin berkemah, hasil dari ramah tamah tadi kita bisa mendapatkan akses air bersih, listrik, mushola, dan toilet di dalam pusat penjagaan. Disarankan untuk tidak mendirikan tenda jauh dari pusat penjagaan, agar akses tidak terlalu sulit. Jika ingin menitipkan motor di dalam kawasan penjagaan juga bisa, tapi lebih baik diletakkan saja di sekitar tenda. Jadi jika ada keperluan setiap waktu kendaraan tetap tersedia, terlebih untuk golongan mager-ian. Gerbang kawasan penjagaan tutup sekitar pukul 21.00–22.00, dan buka kembali waktu subuh. Bangun pagi tetap harus dibiasakan di manapun dan kapanpun, terlebih bagi kita seorang muslim. Salah satu keuntungannya kita akan disuguhi sunrise. Agar lebih indah, bisa dinikmati dari atas mercusuar. Untuk naik yang kedua kalinya, tidak akan dipungut biaya.

Jangan lupa selalu menjaga kesopanan, bawalah barang berharga di tas kecil yang selalu di bawa ke mana-mana, dan jangan meninggalkan tenda tanpa penjagaan. Hal ini terjadi saat kami berkemah di sana. Memang ada yang tinggal di tenda, tepatnya ada dua orang yang masih tidur di tenda yang berbeda. Alhasil, saat kembali, tenda kosong lainnya sudah dalam keadaan sudah terobrak-abrik. Walau memang tidak ada yang hilang.

Dari segi kebersihan dan keindahan, pantai cukup bersih dan terawat. Setiap pagi ada penjaga yang membersihkan daerah sekitar pantai, walau jangkauan tempat yang dibersihkan tidak terlalu luas. Jika sudah dalam jarak yang lumayan jauh, perilaku-perilaku tak bertanggungjawab terlihat dari sampah yang berserakan. Meskipun tidak terlalu direkomendasikan untuk berwisata ke Pantai Tanjung Kalian ini, wisatawan yang ingin berkunjung tetap bisa menikmati keindahan dari mercusuar yang tidak ditemukan di tempat lain. 





 Rekomendasi destinasi wisata selanjutnya masih di Mentok, yaitu Bukit Menumbing. Yang spesial dari tempat ini adalah rumah tempat Ir. Soekarno diasingkan dulu. Untuk mencapai puncak bisa dengan berjalan kaki atau dengan kendaraan. Kendaraan hanya bisa kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat yang tidak terlalu besar. Biaya masuk hanya diminta di bawah bukit senilai Rp 3.000/motor dan Rp 5.000/mobil. Jika dalam perjalan beregu dan dalam waktu yang lama, bisa dengan berjalan kaki agar dapat lebih menikmati keasrian dan kelelahan sewaktu mendaki. Medan yang ditempuh memang selalu menanjak. Untuk para pejalan kaki, disediakan pos di beberapa tempat untuk beristirahat. Sedangkan bagi yang membawa kendaraan, diharapkan untuk selalu menempatkan kendaraannya di posisi gigi satu. Sampai di atas, setelah memakirkan kendaraan, pengunjung bisa langsung masuk ke tujuan utama, rumah Ir. Soekarno. Biasanya untuk perjalan beregu seperti anak sekolahan, di awal akan ada pemandu yang menceritakan secara singkat tentang kediaman ini. Saat pertama kali betandang ke sana, sang penjaga malah mempertontonkan aksi uang melayang. Jika tidak ingin turun bukit dengan tangan kosong, bisa membeli aksesoris khas Bangka yang di jual di puncak bukit. Selain rumah milik presiden pertama Indonesia ini, ada juga tangga seribu yang masih berada di area sekitar rumah. Saat turun bukit, pengendara motor atau mobil (terutama motor) bisa mematikan mesin kendaraan untuk menghemat bahan bakar. Sayangnya tidak banyak yang tertangkap kamera, foto di bawah adalah panaroma dari atas bukit.

haa hiya dzih

Foto saya
Penulis yang merupakan gadis kelahiran Bangka dan akrab disapa Yuqo ini memiliki nama lengkap Yusti Qomah. Inilah jurnal dari penulis dengan beribu mimpi, ditulis dalam segala kondisi.

Popular Posts

Recent Posts