Senin, 27 April 2020

Kesehatan adalah bagian terpenting dari kehidupan manusia. Baik sehat secara lahir mapun batin. Tidak perlu membahas masalah kesehatan yang besar. Cukup dari hal kecil saja, gigi dan mulut. Di usia kita sekarang, sudahkah kita menyikat gigi dengan benar? Sudahkah kita memperhatikan kesehatan mulut kita sebagaimana mestinya? Terlebih, di bulan Ramadhan, ini menjadi hal yang sangat penting. Tulisan ini muncul bukan karena fokus saya di bidang tersebut. Saya tertarik menuliskan bahasan mengenai gigi dan mulut setelah mengikuti diskusi online yang diadakan Kelas Online Inspirasi Muslimah (KOIM). Anggap saja ini sebagai insight dari diskusi tersebut.

Poster diskusi online yang diadakan KOIM
Angka penderita sakit gigi karena kurang tepat dalam perawatannya sangat tinggi. Mungkin karena masih jarang ditemukan akibat fatal dari sakit gigi. Tetapi tanpa kita sadari, penyakit pada gigi juga dapat menimbulkan gangguan serius lainnya. Contohnya pada gigi berlubang. Lubang yang dalam menghubungkan gigi dengan saraf dan pembuluh darah. Bakteri dari gigi pun akan masuk ke pembuluh darah, dan bisa berakhir di jantung dan pankreas. Walau bagaimanapun, rongga mulut merupakan gerbang penyakit. Semua makanan dan minuman masuk ke tubuh kita lewat rongga mulut.

Saya sendiri menemukan hal yang lucu tapi nyata. Ternyata selama dua puluh tahun lebih banyak hal keliru yang terbiasa dilakukan dalam merawat gigi dan mulut. Hal paling mendasar adalah menyikat gigi. Saya terbiasa membasahi mulut dan sikat gigi terlebih dahulu. Dan saya pikir ini terjadi pada hampir setiap orang. Dalam kondisi rongga mulut dan sikat gigi yang basah, fluoride yang terkandung dalam pasta gigi tidak akan berfungsi untuk mencegah gigi berlubang. Berkumur dilakukan setelah selesai menyikat gigi. 

Bentuk sikat gigi yang sering digunakan pun tidak tepat. Jika masih menggunakan sikat gigi dengan bentuk persegi dan bulu sikat yang keras, sebaiknya diganti kepala sikat gigi yang ujungnya bulat dan berbulu halus. Dengan menggunakan sikat gigi yang bentuk ujung sikatnya bulat, gigi-gigi di bagian belakang bisa tercapai oleh sikat gigi.

Contoh bentuk sikat gigi yang baik (Photo by Pixabay)
Bagi pengguna rutin obat kumur, sebetulnya tidak direkomendasikan jika kondisi gigi dan mulut baik-baik saja dalam arti masih bisa dibersihkan dengan menyikat gigi. Obat kumur digunakan ketika kita dalam kondisi tidak bisa menyikat gigi, seperti ada bagian rongga mulut yang terluka, sariawan, atau pasca pencabutan gigi. Untuk kondisi rongga mulut yang sehat, cukup dengan menggosok gigi sebanyak dua kali dalam sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur. Pada bulan Ramadhan, lakukan setelah sahur dan sebelum tidur. Alasan tidak direkomendasikannya menggunakan obat kumur terlalu sering adalah keringnya rongga mulut dan sedikitnya air liur yang keluar (xerostomia).

Photo by CNN Indonesia
Selain dari tahapan-tahapan di atas, menyikat gigi menghadap cermin juga penting agar kita tahu bagian gigi mana yang belum dibersihkan. Menyikat gigi tidak bisa hanya mengandalkan perasaan. Berkenaan dengan benar atau tidaknya cara menyikat gigi, Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan hanya 2,3 persen penduduk Indonesia yang menyikat gigi dengan benar. Rata-rata mereka adalah dokter gigi atau tenaga kesehatan yang memahami masalah kesehatan gigi. Diperkirakan tiap orang di Indonesia memiliki empat sampai lima gigi yang rusak. Semoga kesadaran untuk merawat gigi dan mulut dengan benar meningkat.

Sekedar informasi, KOIM mengadakan diskusi rutin dengan tema yang beragam. Jika tertarik untuk bergabung bisa menghubungi narahubung yang tertera di poster diskusi di atas. Khusus muslimah, ya. Bridging yang pas, kan. Hehe.

Senin, 20 April 2020

Dalam Alquran, manusia disebut dengan beberapa kata, termasuk insan. Menurut Ibnu Mandzhur, salah satu kata yang mendasari insan dalam bahasa arab adalah nasiya, yang berarti lupa. Karena hal inilah, ungkapan nisyan (pelupa) melekat pada manusia. Gelar pelupa melekat bukan tanpa penyebab. Seorang utusan Allah pun pernah lupa.

Perisitiwa ini diceritakan dalam salah satu sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Saat Nabi Adam diciptakan, Allah mengusap punggungnya. Kemudian, muncul seluruh jiwa yang akan menjadi anak cucunya. Allah meletakkan kilauan cahaya di antara tiap kedua mata mereka. Nabi Adam bertanya, “Ya Rabbi, siapa mereka?” Allah menjawab, “Mereka adalah anak cucumu.” Saat melihat seseorang lainnya yang ia kagumi, Nabi Adam kembali melontarkan pertanyaan, “Wahai Rabbi, siapa ini?” Allah menjawab, “Ini adalah laki-laki dari kalangan umat terakhir dari anak cucumu yang bernama Dawud.” Setelah mengetahui bahwa Allah memberi laki-laki tersebut usia sepanjang enam puluh tahun, Nabi Adam memberikan empat puluh tahun dari umurnya untuk Dawud. Ketika malaikat maut datang menemui Nabi Adam, beliau bertanya keheranan, “Bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun?” Malaikat menjawab dengan sama herannya, “Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu Dawud?”

Berkenaan dengan peristiwa di atas, Imam Tirmidzi juga meriwayatkan sabda Rasulullah yang lainnya, “Adam mengingkari, maka anak cucunya pun mengingkari. Adam dijadikan lupa, maka anak cucunya dijadikan lupa, dan Adam berbuat salah, maka anak cucunya berbuat salah.” Lupa sudah menjadi salah satu sifat manusiawi. Oleh karena itu, adalah hal yang lumrah ketika kita sebagai manusia sering melupakan berbagai macam hal. 

Alasan sifat yang melekat tidak lantas membuat semua pekerjaan yang dibumbui lupa menjadi tidak berdosa. Lupa bisa dijadikan sebuah karunia atau berujung bahaya. Kasus pertama, saat kita tertimpa musibah, tertimpa bencana, dilanda kesedihan, atau semacamnya. Maka, pada kasus ini lupa adalah karunia yang Allah kirimkan. Bayangkan jika Allah melepas nikmat lupa dari diri manusia? Kita tidak bisa melupakan kesedihan-kesedihan yang menimpa kita. Dalam waktu yang lama, manusia akan larut dalam kesedihan.

Pada kasus yang berbeda, saat kita melupakan ilmu yang telah kita dapat atau melupakan hapalan yang telah kita ingat. Salah satu pepatah arab menggambarkan keadaan ini, “aafatul ‘ilmi nisyaan”, bencana ilmu adalah lupa. Tentu pada tingkat ini lupa merupakan pangkal dari bahaya. Walau memang, para ulama mengkategorikan kembali kondisi ini menjadi dua bagian. Lupa karena di luar kemampuan dan lupa karena unsur kesengajaan. Saat lupa yang muncul karena keterbatasan manusia, maka tidak berdosa. Tetapi, jika sengaja melupakan, tidak ada usaha untuk mendekatkan kembali ilmu-ilmu tersebut, maka dosa adalah jawabannya. Contoh sederhana adalah amanah yang ada pada tiap manusia. Ketika ada hal yang terlupakan karena keteledoran manusia itu sendiri, maka ia sudah berbuat zhalim.

Imam Bukhari pernah mendapat pertanyaan tentang bagaimana meminimalisir sifat lupa. Beliau menjawab bahwa terus mengulang atau membaca adalah jalan keluarnya. Sifat lupa muncul ketika manusia tidak terlalu akrab dengan perkara tersebut, atau boleh jadi tidak menyukainya. Jadi, jika ingin melupakan hal-hal yang tidak bermanfaat, sibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Semoga kita semua dijauhkan dari sifat lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat. Aamiin.

Selasa, 14 April 2020

Photo by Allie Smith on Unsplash
Sejak dunia dihebohkan dengan munculnya berita mengenai Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di China, virus ini menjadi fokus utama di berbagai negara. Seperti yang dimuat dalam South China Morning Post (SCMP), kasus pertama di China diperkirakan terjadi pada tanggal 17 November 2019. Virus ini mulai menginfeksi seorang pria berusia 55 tahun, asal Provinsi Hubei. Tidak perlu menunggu waktu lama, virus ini menyebar dengan kecepatan yang luar biasa. Jumlah kasus terkonfirmasi semakin meningkat dan tersebar di berbagai negara. Berdasarkan data gugus tugas percepatan penanganan COVID-19, di Indonesia sendiri sampai tanggal 13 April tercatat 4.557 orang yang dinyatakan positif, 380 orang sembuh, sementara yang meninggal mencapai angka 399. Karena penyebaran wabah ini semakin meluas, pada Maret 2020 World Health Organization (WHO) menyatakan COVID-19 sebagai pandemi.

Selama pandemi ini berlangsung, keadaan lingkungan menjadi lebih baik. Hal ini dikarenakan kebijakan karantina wilayah dan pembatasan sosial. Kebijakan ini memaksa masyarakat untuk melakukan semua aktivitas di rumah. Tempat ibadah, pusat perbelanjaan dan tempat-tempat umum lainnya pun ditutup. Semua industri tidak lagi beroperasi. Moda transportasi pun ikut dibatasi. Kondisi-kondisi ini berujung pada berkurangnya polusi dan penurunan emisi karbon. National Geographic menuliskan penjelasan Profesor Rob Jackson, ketua Global Carbon Project yang dilansir dari Reuters, bahwa pada tahun 2020 terjadi penurunan emisi karbon hingga lima persen. Profesor ilmu sistem bumi di Stanford University ini menambahkan bahwa penurunan emisi karbon yang terjadi adalah penurunan paling drastis sejak Perang Dunia II.

Infographic by Liputan 6
Selain itu, karantina dan pembatasan sosial juga berdampak pada eksploitasi alam yang semakin berkurang. Eksploitasi alam menyebabkan habitat fauna hilang dan berpindah ke daerah permukiman warga untuk mencari tempat perlindungan. Kontak antara hewan dengan manusia di kondisi tertentu membuat virus dari hewan dapat berpindah ke manusia melalui pernapasan ataupun kotoran. Untuk membuktikan hal ini, Christine Johnson, peneliti dari University of California, beserta timnya melakukan penelitian mengenai penularan virus dari hewan ke manusia. Dengan data ratusan virus yang menginfeksi manusia dan hewan, penelitian ini membuktikan pernyataan mengenai perpindahan virus tersebut adalah benar. Johnson menjelaskan bahwa eksploitasi alam seperti perburuan dan penebangan hutan liar mengakibatkan populasi hewan bergeser. Pergeseran populasi ini menyebabkan manusia lebih rentan terserang penyakit.

Dampak positif terhadap lingkungan tidak serta merta membuat COVID-19 dianggap sebagai pelindung bumi. Banyak dampak negatif lain yang lebih merugikan. Jumlah sampah medis selama pandemi berlangsung tentu meningkat pesat. Ratusan hingga ribuan nyawa hilang. Kondisi ekonomi melonjak turun. Apalagi jika pandemi tidak kunjung mereda. Beberapa penelitian yang menggunakan model matematika dari beberapa universitas di Indonesia sepakat bahwa perkiraan puncak pandemi berada di bulan Mei atau Juni, dengan kondisi pemerintah tegas mengeluarkan kebijakan dan masyarakat mengikuti kebijakan dengan disiplin. Jika yang terjadi di lapangan adalah kebalikannya, maka puncak pandemi akan semakin mundur. Akhirnya, semakin lama juga pandemi mereda.

Situasi yang terjadi saat ini seharusnya dapat membuat masyarakat sadar bahwa kondisi lingkungan yang baik muncul ketika kita memberikan aksi yang sama baiknya. Contohnya, kondisi alam yang terjaga menghasilkan kulitas udara yang sehat. Pandemi ini dapat dijadikan titik balik untuk mengubah gaya hidup masyarakat. Karena jika perilaku masyarakat tidak berubah, kondisi lingkungan setelah pandemi berakhir akan kembali seperti semula, bahkan bisa lebih buruk. Sebagaimana yang dikhawatirkan oleh National Geographic, bahwa kegiatan yang selama ini tertunda seperti proses produksi di pabrik-pabrik akan meningkat berkali-kali lipat untuk menutupi ketertinggalan selama pandemi. Satu-satunya pilihan adalah menjadi garda terdepan untuk sama-sama menjaga kelestarian alam. Tidak hanya masyarakat umum, tapi semua pihak termasuk pemerintah.

#WAGFLPSumselMenulis
#flpsumsel
#dirumahaja

Minggu, 12 April 2020


Beberapa hari lagi, tanggalan di tahun 2018 sudah melewati pertengahan, lembar kalender akan melangkah ke Juli meninggalkan Juni. Kami yang awalnya lebih dari sepuluh orang, sekarang tersisa tiga orang, masih menjalankan misi sebagai pemandu wisata bagi satu-satunya tamu dari Lampung (yang kebetulan teman kuliah sepupu saya sewaktu di Lampung), selama ia di Bangka. Penjajakan Pulau Bangka dimulai dari Muntok dan berlanjut ke Jebus, Bangka Barat. Belum lelah melakukan nomaden dari satu pantai ke pantai yang lain, kami menyeberang dari Bakit ke Belinyu, destinasi terakhir di itinerary.

Kota kecil di ujung Kabupaten Bangka ini menyimpan banyak pantai dan pulau yang tak habis dikunjungi dalam waktu satu hari. Di sisa hari terakhir, kami memilih Pulau Putri yang berada di tengah Pantai Penyusuk sebagai tempat yang menutup cerita kali ini. Bermalam di sebuah pulau dengan teman seperjalanan yang semuanya perempuan membuat kami memutuskan untuk mengajak satu pemandu tambahan. Akhirnya, rencana sudah dibuat, tekad sudah bulat. Sebelum adzan Magrib mengudara, kami tiba di Pantai Penyusuk, di tempat para pelaut dan nelayan bermukim. Pemilik kapal yang hendak mengantarkan kami terkejut mendengar rencana kami yang ingin bermalam di pulau. Mengingat kondisi cuaca saat itu kurang mendukung dan sedang hujan. Apalagi, kami akan menyeberang saat hari sudah gelap. Melihat kesungguhan yang tak akan terhapus oleh kondisi apapun, pemilik kapal setuju untuk mengantar sekaligus menjemput kami keesokan paginya.

Dengan jas hujan yang masih melekat dan ditemani tiupan angin yang tidak kunjung memelan, kami mendarat dengan selamat di Pulau Putri. Tanpa banyak diskusi kami memilih tanah di balik batu sebagai tempat mendirikan kedua tenda kami, dengan harapan tiupan angin lebih terhalang. Sebagian dari kami langsung sholat dan  sebagian lainnya menyiapkan makan malam setelah tenda berdiri dengan posisi yang kadang tertiup angin ke kanan, kadang ke kiri. Api yang kami harap dapat sedikit menghilangkan kedinginan juga selalu padam saat dihidupkan. Tetesan air dari sisi-sisi jas hujan yang kami bentangkan sebagai atap berteduh di depan tenda hanya memadamkan api dengan dua tetesan, setelah kami mengerahkan tenaga kami lima kali lipat. Tidak banyak yang bisa kami lakukan di tengah pulau tanpa penghuni lain selain kami, pada malam hari ketika cuaca tak bisa diajak berkompromi, selain mengakrabkan diri dan menghabiskan sisa-sisa cemilan dari perjalanan sebelumnya.

Langit pagi yang cerah menyambut kami dengan senyuman, seolah berusaha menghibur dari cuaca buruk semalam. Dengan berapa tegukan kopi dan air mineral, kami menyudahi pembersihan dan pembongkaran tenda. Tepat di samping Pulau Putri, ada daratan yang ditumbuhi banyak pohon mentigi. Karena pohon inilah, pulau ini dinamakan Pulau Mentigi. Eksotisme Pulau Mentigi lebih menonjol dibandingkan dengan Pulau Putri. Dengan kondisi air yang surut, kami bisa berjalan ke Pulau Mentigi tanpa harus berjalan di dalam air. Biasanya, untuk menyeberang harus berenang atau menggunakan kapal saat air setinggi pinggang bahkan lebih.

Daratan Pulau Putri
Jalan yang menghubungkan Pulau Putri dan Pulau Mentigi saat air surut

And... it’s show time! Waktunya untuk benar-benar berwisata dan memenuhi galeri kamera. Dengan bawaan yang memenuhi tas punggung masing-masing, kami berkeliling di dua pulau. Melihat batu-batu yang menyerupai bentuk manusia, mengambil gambar, bersantai di dahan-dahan mentigi, menahan lapar, dan sesekali mengambil cemilan yang sudah habis tigaperempatnya. Bebatuan yang menjulang tinggi di beberapa bagian dan terpecah lebih kecil di beberapa bagian lain, pohon-pohon khas yang memayungi dari sengatan matahari, serta ombak ringan yang menyapu pasir putih di pesisir adalah kombinasi yang tak terkalahkan untuk sebuah pantai. Terlebih saat pulau sepi tanpa ada pengunjung lain, kesan menentramkan dan efek healingnya lebih terasa. Salah satu batu yang populer dan banyak diabadikan pengunjung adalah batu yang menyerupai dua manusia yang sedang berpelukan.

Foto di batu yang menyerupai dua manusia saling berpelukan
Berisitirahat sejenak di pohon mentigi
Walau hampir terlihat sama besar, Pulau Mentigi lebih kecil dari Pulau Putri, dan lebih bersih. Karena pengunjung lebih sering datang ke Pulau Putri. Tak heran, bekas kemasan makanan dan minuman dari yang berusia muda sampai berusia tua terlihat hampir mengelilingi setiap pepohonan di Pulau Putri. Di hari-hari biasa, ada beberapa penjual yang menjajakan makanan di pondok-pondok yang telah disediakan. Dari hasil jual beli inilah, produksi sampah semakin menumpuk. Masalah ini adalah hal umum yang terjadi di rata-rata tempat wisata.

Kesadaran manusia yang masih rendah tidak bisa hanya disodorkan oleh tulisan-tulisan himbauan saja. Untuk mengeluarkan sebuah aksi, dibutuhkan aksi lain sebagai penggerak. Kita tidak bisa terus-terusan menuntut orang lain untuk peduli lingkungan saat kita sendiri berlaku sebaliknya. Jadi, mulailah dari diri sendiri. Walau hanya hal kecil dan tidak terlihat, lama kelamaan akan semakin terlihat dan membesar. Ingat kode etik para pecinta alam (bukan termasuk saya, hehe), “Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak. Jangan mengambil apapun kecuali gambar. Jangan membunuh apapun kecuali waktu.” Semoga kita bisa memaknai lebih dalam peran khalifah yang Allah amanahkan.

Silahkan bertandang menyaksikan eksotisme Pulau Putri dan Pulau Mentigi secara langsung!

Foto bersama di jalanan yang membentang antara Pulau Putri dan Pulau Mentigi

*Semua foto adalah dokumentasi pribadi

Senin, 06 April 2020


Illustration by YuQo
Cerminan diriku memantul sebagian dari kaca mobil dan bis yang berhenti di depanku. Postur yang tegap dan tinggi, mampu menghalau matahari bagi siapa saja yang berdiri di dekatku. Dari kaca kendaraan, kulihat beberapa bekas botol air kemasan tergeletak tak diacuhkan tepat di samping aku berpijak. Terkadang, ada pula plastik-plastik kemasan makanan yang sengaja ditinggalkan. Di sisi jalanan ini aku terpaku sepanjang waktu, menyaksikan putaran orang lalu lalang di jalanan, naik turun dari kendaraan. Aku tak heran. Daerah perkotaan memang selalu akrab dengan keramaian.

Siang ini agak berbeda dari biasanya. Orang-orang yang setiap hari lalu lalang dan sibuk berbincang, hari ini terlihat panik dan diam memandang dari jendela rumah mereka. Bekas kemasan minuman dan makanan di sekitarku pun tidak lagi terlihat. Menyusul siang yang diam, sirine ambulans memecah teriknya hari ini. Bukan hanya satu, bahkan kukira sampai belasan atau puluhan ambulans berlarian di jalanan, berganti peran dengan orang-orang yang memilih tak berkeliaran. "AYO LAWAN COVID-19 DENGAN MELAKUKAN SOCIAL DISTANCING." "LAWAN COVID-19 DENGAN TETAP BERDIAM DI RUMAH." Beberapa himbauan bermakna serupa memenuhi papan iklan. Aku baru paham. Keramaian sedang dipadamkan.

Beberapa sisi jalan hanya diisi oleh gerai kudapan kecil yang sepi pembeli dan tukang ojek yang kehilangan penumpang. Saat angin menggiring penglihatanku ke arah mereka, aku turut merasakan ketidakberdayaan. Di sisi lain, aku senang tak mendapati sampah di sekitarku. Aku senang bisa menghirup udara kota tanpa tambahan suara ricuh dan kepulan asap. Melihat orang yang terus-terusan mengkampanyekan social distancing ataupun physical distancing, aku menggerutu di dalam hati. 'Aku saja yang sebelumnya selalu dekat dengan keluarga dan sahabatku, kalian paksa untuk hidup terpisah. Tidak nyaman harus berjauhan dengan kerabat dan sahabat. Tahu rasa kalian sekarang!'

Mungkin bagi mereka ini adalah cobaan atau teguran. Tapi bagiku, ini adalah awal dari harapan. Di hari-hari yang sepi ini, aku mendoakan agar tidak ada lagi teman-temanku yang terpisah dari kerabatnya. Tidak ada lagi tangan-tangan yang meninggalkan sampah dengan wajah tak berdosa. Tidak ada lagi hati-hati egois yang menginginkan lebih dari yang mereka punya. Aku berharap semua bisa mengambil pelajaran, tidak hanya pengalaman. Ini saatnya doaku dikabulkan. Doa pohon tua yang hampir dimakan usia.

#Hangka
#IndonesiaHebat
#dirumahaja
#Asketikkata

Jumat, 27 Maret 2020

Buku adalah salah satu teman dekat saya saat masih bersekolah di sekolah dasar. Semua jenis buku, baik fiksi maupun non fiksi. Salah satu yang paling saya sukai adalah ensiklopedia. Alasannya sederhana. Pertama, karena covernya tebal, kertasnya pun tidak seperti buku biasa. Kedua, di dalamnya banyak ilustrasi menarik yang bisa saya gambar kembali. Jika ensiklopedia yang dibaca mengenai daerah-daerah di Indonesia maupun luar Indonesia, beberapa daerah akan saya tuliskan di buku khusus, seperti menuliskan mimpi-mimpi yang ingin dicapai, tapi ini khusus untuk perjalanan. Salah satu daerah yang pernah saya tuliskan adalah Aceh.

Alhamdulillah, Allah menjawab doa itu di bulan Juli 2019, saat saya di bangku kuliah, melalui jalan yang tak terduga. Allah berbaik hati menghadiahi saya lingkungan dan teman-teman baru yang senantiasa terjaga dan dekat dengan Alquran. Pendek kata, saya menjadi salah satu perwakilan Universitas Sriwijaya di Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional (MTQMN) XVI di Universitas Syiah Kuala, Aceh Besar, cabang debat bahasa arab (debat ilmiah kandungan Alquran). Memang, saya punya latar belakang yang lumayan mendukung. Karena masa SMP saya dihabiskan di pondok pesantren yang mewajibkan berbahasa inggris dan bahasa arab 24 jam. Tapi siapa yang menyangka? Tetap saja saya merasa kemampuan berbahasa arab yang saya miliki masih jauh seperti yang diharapkan. 

Kafilah MTQMN XVI UNSRI sebelum keberangkatan
Qodarullah, karena bekal kami dalam cabang debat bahasa arab belum terisi penuh, kami tidak lolos ke semi final. Kecewa? Tidak sepenuhnya. Karena saya mendapatkan banyak hal, lebih dari yang saya harapkan, yang belum tentu bisa saya dapatkan di lain kesempatan. Jalinan ukhuwah yang semakin meluas, pengalaman baru, cerita baru, dan tentu bisa berwisata ke tempat yang saya impikan.

Kelompok mu'aaridh (kontra) dan muayyid (pro) setelah tampil
Universitas Syiah Kuala, sebagai tuan rumah MTQMN XVI meninggalkan kesan dan pelajaran yang berharga. Hal mengesankan pertama dan patut dijadikan contoh dari Universitas "Jantung Hati Rakyat Aceh" ini adalah usaha mereka dalam meminimalisir sampah plastik. Pihak panitia memberikan botol minuman untuk setiap peserta maupun official dan memberikan himbauan untuk tidak membeli air mineral kemasan. Air minum isi ulang selalu tersedia di asrama peserta, asrama official, dan semua tempat yang digunakan untuk acara. Tempat pembuangan sampah dibedakan untuk sampah makanan, sampah plastik, dan sampah kaleng. Tidak hanya itu, ada sukarelawan yang ditugaskan untuk menjaga tempat sampah agar tidak terjadi kesalahan saat ada yang membuang sampah. Sukarelawan yang bertugas bukanlah petugas kebersihan, tetapi mahasiswa UNSYIAH sendiri. 

Tumbler yang dibagikan oleh panitia dengan latar belakang acara penutupan MTQMN XVI
Selain usaha dari pihak panitia dalam hal kebersihan, gedung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam adalah hal kedua yang mengesankan dari UNSYIAH. Sangat berbeda dengan tampilan fisik gedung FMIPA UNSRI yang sederhana dan berteman dengan alam dalam arti yang sesungguhnya. Gedung FMIPA UNSYIAH berdiri megah, dengan balutan warna krem yang menjadikannya lebih indah. Dengan kemegahannya, gedung ini lebih tampak seperti istana kepresidenan dibandingkan seperti gedung perkuliahan. Mungkin juga karena dibandingkan dengan UNSRI yang relatif lebih sederhana.

Foto di depan jurusan matematika dan jurusan statistika FMIPA UNSYIAH
Terima kasih untuk pihak universitas dan official, yang selalu mendukung dan memfasilitasi dari mulai persiapan hingga waktu perlombaan. Yang paling penting, untuk ustadzunaa, Ustadz Mukmin, walaupun beliau dosen di universitas yang berbeda, tapi tetap membina kami sampai selesai. Tak lupa juga zamiilatii, Kaima, terima kasih pembelajaran dan pengalamannya. Terimong Geunaseh Aceh!

Bersama ustadz dan official. Dari kiri ke kanan: Ustadz Mukmin, Ka Harry, Yusti, Kaima, Ka Hakim, Ustadz John
Untuk siapapun yang sedang membaca, jangan berputus asa dengan mimpi-mimpi kalian. Allah tidak akan pernah menutup telinga untuk hamba-Nya. Terus berdoa dan berusaha!

Minggu, 15 Maret 2020

Kita memulai
Dari hari-hari yang merapat
Dari huruf-huruf yang diterbangkan
Dari malam yang hendak susut

Kita tiba
Mata saling bertanya
Ada di mana kita?
Ada yang menjawab
Inilah serambi mekah

Mereka bercerita
Ada keagungan tak tergoyahkan
Yang tersisa sepanjang luka
Dirangkul oleh mahakarya
Hingga berdiri sempurna

Kita pulang
Setelah langkah memelan
Memikul kenangan
Agar dikisahkan
Sebelum gelap melintang

Indralaya, 15 Maret 2020
Dari sudut memori

#WAGFLPSumselMenulis
#flpsumselmenginspirasi

Masjid Baiturrahman by Mafazan Maqdiah




haa hiya dzih

Foto saya
Penulis yang merupakan gadis kelahiran Bangka dan akrab disapa Yuqo ini memiliki nama lengkap Yusti Qomah. Inilah jurnal dari penulis dengan beribu mimpi, ditulis dalam segala kondisi.

Popular Posts

Recent Posts